Peristiwa

Jelang Idul Adha

Juleha Jombang Berbagi Jurus Melumpuhkan Hewan Kurban

Simulasi penyembelihan hewan korban yang dilakukan oleh Juleha Jombang

Jombang (beritajatim.com) – Anggota Juleha (Juru Sembelih Halal) Jombang, Cholis R Basuki (41), duduk di depan forum di kantor WMC NU Kecamatan Kabuh. Di hadapannya berjajar pisau berbagai model dan ukuran. Dia kemudian mengambil salah satu pisau yang masih bersarung. Ditariknya senjata tajam tersebut dari sarungnya. Permukaan pisau itu terlihat putih dan berkilat-kilat.

Adegan selanjutnya, alumnus Fakultas Psikologi Undar (Universitas Darul Ulum) Jombang ini mengambil selembar kertas warna putih. Jadilah tangan kanan Cholis memegang pisau, sedangkan tangan kirinya memegang kertas.

Sekali sorong, mata pisau yang berkilatan itu memotong kertas dengan sangat rapi. Itu dilakukan berulang-ulang hingga lembaran kertas tersebut terpotong kecil-kecil. Saat mata pisau menerjang kertas, nyaris tak ada suara. Artinya, pisau dibawa anggota Juleha itu sangat tajam.

Itulah salah satu materi yang disampaikan Cholis tentang senjata tajam atau pisau yang layak digunakan untuk menyembelih hewan kurban. Cholis menerangkannya secara panjang lebar. Mulai memilih jenis pisau, serta tips mengasah pisau secara benar. Sehingga menghasilkan ketajaman yang sesuai standar.

Cholis juga menyampaikan materi tentang tata cara melumpuhkan hewan kurban. Karena selain dibutuhkan pisau yang benar-benar tajam, cara menjatuhkan sapi/hewan kurban juga tidak boleh menyakitkan atau dengan kekerasan. Makanya juru sembelih juga harus tahu dan menguasai teknik tertentu saat menjatuhkan hewan.

Dalam pelatihan tersebut, anggota Juleha ini melakukan simulasi berbagai teknik tersebut. Alat peraga yang digunakan adalah sapi berbahan plastik, tambang, serta pisau. Seluruh peserta yang hadir mengikuti pelatihan dengan seksama.

Ketua Juleha DPD Jombang Ahmad Khumedi mengatakan, mendekati Hari Raya Idul Adha 1441 H, pihaknya terus melakukan edukasi ke masyarakat. Juleha menghadiri undangan ke kecamatan-kecamatan untuk memberikan pelatihan penyembelihan hewan kurban secara benar.

Cholis R Basuki saat menyampaikan meteri tentang penyembelihan hewan kurban

Selain itu, Juleha juga bersinergi dengan organisasi keagamaan seperi NU (Nahdaltul Ulama) dan Muhammadiyah, guna melakukan kegiatan serupa. “Seperti pada Minggu (19/7/2020), Juleha diundang MWC (Majelis Wakil Cabang) NU Kecamatan Kabuh untuk memberikan materi tentang penyembelihan hewan kurban. Kemudian Rabu (29/7/2020) malam diundang Lazisnu Jombang untuk memberikan materi serupa,” ujar Medi, sapaan akrab Ahmad Khumedi, Selasa (28/7/2020).

Sebelumnya juga diundang MWC NU Kecamatan Diwek, serta pengurus masjid di Desa Sumber, Kecamatan Jogoroto, serta Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan. Para peserta yang hadir kebanyakan para pengurus masjid yang menjadi panitia kurban dan modin (kaur kesra).

Menurut Memed, pelatihan tersebut penting dilakukan, karena menyembelih hewan kurban tidak boleh sembarangan. Sebab harus memenuhi kriteria baik secara syar’i maupun tinjauan kesehatan dengan istilah Asuh (Aman Sehat Utuh dan Halal).

Dengan cara yang benar, lanjut Medi, tidak sekadar melancarkan proses penyembelihan hewan kurban. Namun juga keselamatan juru sembelih itu sendiri. Pasalnya, jika cara melumpuhkan hewan kurban tidak benar, gerakan spontan hewan kurban bisa mencelakakan.

“Juga dibutuhkan pisau yang benar-benar tajam, agar hewan yang disembelih tidak kesakitan. Dengan pisau yang tajam tenaga yang dibutuhkan penyembelih tidak terlalu banyak, baik untuk metode dorong atau metode tarik,” kata jebolan Fakultas Pertanian Undar Jombang ini.

Medi memaparkan, keprihatinan Juleha bukan hanya pada penyembelihan hewan kurban, tapi adanya penyembelihan unggas yang sering tidak sesuai syar’i. Sering ditemui leher unggas bukan disembelih, tapi seperti ditusuk.

“Sering juga kita temukan hewan belum benar-benar mati, tapi sudah dilakukan proses pengulitan (sapi atau kambing). Dan biasanya para jagal akan menusuk jantung atau saraf di leher agar hewan cepat mati. Padahal itu salah. Jadi matinya hewan bukan karena penyembelihan, tapi tusukan,” katanya.

Medi mengungkapkan, Juleha Jombang secara resmi terbentuk pada 2019. Saat ini jumlah anggota 30 orang. Mereka kebanyakan adalah penghobi pisau. Selama satu tahun terakhir ini, peningkatan kualitas anggota terus dilakukan. “Untuk Idul Adha ini kami menerjunkan 25 Juleha yang kita sebar di sejumlah kecamatan,” pungkas Medi. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar