Peristiwa

JIAD Sebut Pelaku Bom Makassar Segelintir Kelompok Islam Berpandangan Sempit

Ledakan gereja Katedral Makassar. (Foto:tangkapan layar)

Jombang (beritajatim.com) – Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) mengutuk keras pemboman di depan Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021). Oleh karena itu, JIAD mendesak aparat keamanan untuk bekerja ekstra-keras menegakkan hukum dan memastikan peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi.

Koordinator JIAD Aan Anshori mengatakan, peristiwa ini bisa dikatakan merupakan “ritual rutin,” menyambut hadirnya bulan suci Ramadan. Pelakunya adalah segelintir kelompok Islam yang berpandangan sempit dan ekstrim atas agama lain, khususnya Katolik/Kristen.

“Bom Surabaya 2018, bom Kartasura 2019, bom bunuh diri Mapolres Solo 2016, dan bom panci Kampung Melayu 2017 merupakan peristiwa yang memanfaatkan momentum Ramadan. Tidak hanya di Indonesia, “ritual rutin” ini juga terjadi di beberapa negara, misalnya Pakistan, Yaman, Arab Saudi, Baghdad, dan Turki,” kata Aan, Minggu (28/3/2021).

Dia melanjutkan, terdapat sebagian kelompok Islam yang memahami bulan Ramadan harus disucikan dengan cara menumpahkan darah orang yang dianggap kafir, termasuk rumah ibadah dan propertinya. Mereka juga kerap menyerang simbol-simbol pemerintah yang dianggap bertentangan dengan doktrin ideologinya.

“Kami menyerukan kepada masyarakat non-Islam untuk tidak panik dan tetap tenang serta memperkuat keamanan rumah ibadah masing-masing. Pemboman biasanya memanfaatkan kerumunan jemaat saat ibadah Minggu,” ujarnya.

“Mari kita jadikan semangat Paskah dan Ramadan justru sebagai momentum untuk lebih mempererat jalinan antaragama dalam merawat kebinekaan di lingkungan masing-masing,” pungkas Aan. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar