Peristiwa

Jembatan Apung Ini Hubungkan Kabupaten Mojokerto – Sidoarjo

Jembatan Apung di Desa Candiharjo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. [Foto : misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Jembatan apung di Desa Candiharjo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto menjadi jembatan penghubung antar kabupaten. Yakni Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Sidoarjo. Jembatan itu dibangun pada 2016.

Panjang jembatan yang mencapai 200 meter, sebagian besar menggunakan kayu mahoni. Selain itu, di bawahnya terdapat 200 drum berwarna biru untuk menopang jembatan menjadi lebih kuat drts menahan derasnya arus Kali Porong.

Untuk melintasi jembatan tersebut, masyarakat dikenakan biaya Rp4 ribu, jembatan apung merupakan jalur alternatif yang dibuka 24 jam. Jembatan ini dibangun oleh warga dari Brebes, Jawa Tengah, yang memiliki usaha di bidang pembangunan dengan bantuan tenaga masyarakat sekitar.

Salah satu warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo Anton (42) mengaku cukup terbantu dengan adanya jembatan apung tersebut. “Saya sering lewat sini, enak lewat sini daripada lewat Jasem. Terlalu jauh kalau ambil rute memutar,” ungkapnya, Jumat (13/9/2019).

Pedagang sembako ini menambahkan, jika lewat Desa Jasem maka ia harus memutar dan bisa dipastikan jarak yang ditempuh bisa sampai 10 kilometer. Namun berbeda jika melewati jembatan apung, karena rutenya hanya 1 kilometer. Lebih cepat dan hemat waktu.

“Karena dibangun hanya seperti ini, kami sebagai warga berharap pemerintah bisa memperbaiki jembatan apung ini menjadi lebih baik. Kuat menahan beban karena saya sendiri juga membawa barang dagangan yang tak sedikit,” katanya.

Warga lainnya, Soleh (44) menuturkan, sebelum adanya jembatan apung kayu tersebut warga menggunakan perahu  untuk menyeberang ke tempat tujuannya. “Jembatan apung yang dibangun 3 tahun yang lalu ini menghubungkan antar desa di Kabupaten Mojokerto dan Sidoarjo,” ujarnya.

Konstruksi jembatan menggunakan papan kayu bergerai yang ditancapkan dengan paku. Sementara tambang pada jembatan apung, menggunakan tali seling dan tali tambang. Tujuannya, agar jembatan kuat dalam menahan arus Kali Porong.

“Jembatan ini mengalami kerusakan sebanyak dua kali lantaran tidak kuat menahan aliran arus kali Porong yang kuat. Harapannya jembatan apung ini bisa dibangun secara permanen karena banyak warga yang lewat. Baik anak sekolah maupun masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Kabag Humas dan Protokol Kabupaten Mojokerto, Alfiah Ernawati mengatakan, pihaknya masih berkoordinasi dengan pihak terkait. “Soal pembangunan, kami koordinasi dulu dengan pihak terkait, seperti Dinas PU dan pihak Kecamatan Ngoro,” tegasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar