Peristiwa

Jelang Perayaan Imlek, Perajin Kue Keranjang di Mojokerto Ramai Pesanan

Proses pembuatan kue keranjang yang butuh waktu dua jam. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Jelang tahun baru Imlek 2020, kue keranjang yang diproduksi Atik Susiana Wati Elisa (44), ramai pesanan. Bahkan, perajin kue keranjang warga Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini, sudah tidak menerima pesanan dua hari jelang perayaan tahun baru Imlek.

Dari home industri kue khas Imlek ini, Elisa bisa memproduksi lebih dari 200 biji kue keranjang setiap harinya. Pesanan kue tersebut mulai ramai dua minggu jelang perayaan tahun baru Imlek. Elisa mengaku, untuk perayaan tahun baru Imlek kali ini, ia sudah menerima pesanan kue keranjang hingga 500 biji.

“Kalau pesanan sudah mulai awal Januari kemarin, tapi untuk produksinya mulai dua minggu menjelang Imlek. Kita tidak menerima pesanan dua hari jelang perayaan tahun baru Imlek. Kalau yang pesan, dari Mojokerto dan luar Mojokerto. Sudah langganan,” ungkapnya, Rabu (22/1/2020).

Pemesan kue keranjang produksi home industri milik Elisa ini datang dari berbagai kota di Jawa Timur. Paling banyak konsumen yang memesan kue keranjang buatannya yakni dari Kota Surabaya dan Malang. Mereka memesan satu bulan menjelang Imlek melalui sambungan telepon.

“Rata-rata yang pesan kue keranjang ini, akan dijual lagi. Ya seperti penjual dari luar kota. Kalau kami hanya menerima pesanan, jadi kue keranjang ini tidak disebarkan atau dititipkan ke toko oleh-oleh. Sudah ada pelanggan yang setiap tahun memesan kue keranjang jelang perayaan tahun baru Imlek,” katanya.

Elisa menjelaskan, pesanan kue keranjang memang ramai menjelang Imlek karena kue tersebut memang ada saat perayaan tahun baru China tersebut. Untuk memenuhi pesanan, ia dibantu lima karyawan untuk menjalankan home industri yang merupakan bisnis keluarga yang berjalan selama tiga generasi.

“Ini usaha dari nenek, orang tua, baru ke saya. Kakek-nenek saya asli dari China kemudian usaha kue keranjang ini, dulu rumah di kota (Kota Mojokerto). Pertama ya di sana, kemudian saya teruskan pindah di sini. Sebelum saya, bisnis ini ditekuni orang tua saja. Sudah 60 tahun bisnis ini,” tuturnya.

Ibu dua anak ini menuturkan, pada zaman neneknya, kue keranjang dicetak menggunakan keranjang dari anyaman bambu. Sehingga kue berbahan dasar ketan dan kula pasir ini diberi nama kue keranjang. Namun seiring berjalannya waktu, cetakan keranjang diganti dengan bahan aluminium.

“Karena cetakan dari anyaman bambu hanya bisa untuk sekali pakai sehingga sekarang pakai cetakan dari alumunium. Saya mulai membuat kue keranjang sekitar tahun 2011, saya warisi dari ibu saya Lin Siang Mei alias Lisa Melani. Ibu saya warisan dari kakek-nenek saya jadi ini resep keluarga,” urainya.

Istri Ronald Eduward (49) ini mengaku, meski hanya mengandalkan moment, namun omzet penjualan kue keranjang miliknya cukup menjanjikan hingga mencapai puluhan juta rupiah. Untuk satu kue keranjang, Elisa menjualnya dengan harga Rp20 ribu dan rata-rata setiap perayaan tahun baru Imlek, ia bisa memproduksi 1.000 kue keranjang ukuran besar.

“Kalau di sini, ukurannya besar. Satu kue 1/2 kg. Memang ada ukuran yang lebih kecil tapi di tempat saya, cetakannya ukurannya 1/2 kg jadi memang ditimbang sehingga hasilnya sama. Untuk daya tahan kue keranjang cukup lama, apalagi dimasukkan ke dalam kulkas bisa tahan sampai satu tahun,” jelasnya.

Kue keranjang tersebut memang digunakan sebagai salah satu perlengkapan sembahyang saat Imlek sehingga hanya ada satu tahun sekali yakni saat perayaan tahun baru Imlek. Setelah selesai menjadi persembahan saat sembayang, kue keranjang tersebut kemudian dimakan bersama keluarga dan teman.

“Kue keranjang ini bebas dari bahan pengawet. Kue keranjang ini, bahan dasarnya beras ketan dicampur gula pasir. Untuk takaran gula pasir dan berasa masing-masing satu banding satu kemudian adonan kue keranjang dibagi menjadi dua di wadah bak plastik. Satu bak ini, bisa menjadi lebih dari 75 biji kue keranjang,” paparnya.

Tahap pertama pembuatan kue kering ini yakni sebagian gula pasir disangrai terlebih dulu sampai berwarna kecoklatan. Setelah diperoleh warna yang diinginkan gula pasir sangrai itu didinginkan. Beras ketan yang sudah digiling dicampur gula yang mencair ditambah air pandan sampai menjadi adonan padat.

“Setelah menjadi adonan kemudian adonan dituang ke dalam cetakan yang ditimbang untuk menyamakan takarannya dan dikukus selama 2 jam dan siap untuk dikemas. Untuk mengukusnya, saya gunakan kompor minyak tanah karena apinya lebih merata. Karena harus dikukus dengan api kecil selama dua jam,” tegasnya.

Kue keranjang yang telah matang kemudian dikemas dengan plastik dan diberi label dengan Bahasa Mandarin. Karakteristik bentuk kue keranjang yang baru dibuat satu atau dua minggu ini masih dalam kondisi lembek dan lengket. Kue keranjang tersebut akan mengeras sekitar satu bulan.

“Ada yang suka menikmati kue keranjang dipotong kecil-kecil jadi harus dikukus dulu kalau sudah mengeras. Apalagi kalau dimasukkan dalam kulkas dalam waktu yang lama, bisa mengeras sehingga saat mau menikmatinya harus dikukus terlebih dahulu,” pungkasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar