Peristiwa

Jelang Lebaran, 119 Pekerja Migran Tiba di Ponorogo

Petugas dari Disnaker Ponorogo melakukan penyemprotan disinfektan ke koper maupun tas pekerja migran yang baru tiba. [Foto/Endra Dwiono]

Ponorogo (beritajatim.com) – Menjelang lebaran, gelombang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Ponorogo mulai tiba di tanah air. Menurut data dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ponorogo, mulai tanggal 1 hingga 4 Mei, sudah ada 119 pekerja migran yang pulang dari luar negeri.

“Hari ini ada 31 orang, jika diakumulasi dari tanggal 1 hingga sekarang sudah ada 119 pekerja migran yang pulang ke Ponorogo,” kata Kepala Disnaker Ponorogo Bedianto, Selasa (4/5/2021).

Disnaker Ponorogo memprediksi, tahun ini ada 6.000 PMI asal bumi reyog yang bakal pulang ke kampung halaman. Kepulangan mereka, kebanyakan karena kontrak kerja habis. Sehingga, kalau sudah tidak digunakan tenaganya, maka yang bersangkutan akan dipulangkan.

“Prediksi 6.000-an itu karena PMI tersebut habis kontrak. Belum lagi yang ada masalah, ya pulang karena dideportasi,” katanya.

Kondisi tanah air dan luar negeri tempat PMI ini bekerja masih dilanda pandemi Covid-19. Disnaker Ponorogo, kata Bedianto, menyurati pemerintah Hongkong dan Taiwan. Isi surat tersebut intinya, untuk tidak memulangkan semua pekerja migran yang habis kontrak.

Bagi PMI yang masih ingin memperpanjang kontrak, bisa langsung dilakukan di sana. “Untuk mengurangi beban karena masih pandemi, kami surati pemerintah Hongkong dan Taiwan, supaya jika ada PMI yang habis kontrak, bisa memperpanjang lagi di sana,” katanya.

Untuk diketahui, menjelang lebaran Idul Fitri tahun ini, ada tata cara berbeda untuk pemulangan pekerja migran Indonesia (PMI) dari luar negeri. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona. “Karena masih masa pandemi Covid-19, tentu kepulangan PMI ini harus diatur mekanismenya sebagai bentuk antisipasi penularan,” kata Bedianto.

Mengingat Ponorogo menjadi salah satu kantong PMI di wilayah Jawa Timur, Bedianto menyebut pihaknya melaksanakan mekanisme tersebut sesuai arahan dari pemerintah. Bagi PMI yang baru tiba di Bandara Juanda, langsung dilakukan karantina maksimal 5 hari, di asrama haji Sukolilo Surabaya.

Di sana pahlawan devisa ini dilakukan pemeriksaan Covid-19, jika hasilnya negatif corona, yang bersangkutan kembali melakukan perjalanan ke kabupaten atau kota asal. “Yang hasilnya positif ya harus dirawat dulu sampai sembuh. Di asrama Sukolilo itu diurus oleh Pemprov Jatim,” katanya.

Pemkab atau Pemkot tempat PMI berasal, yang berkewajiban menjemput di asrama haji Sukolilo. Sampai di kabupaten/kota disinggahkan dulu di kantor Disnaker untuk dilakukan pendataan. Usai pendataan kemudian dijemput lagi oleh pemerintah desa atau kelurahannya.

PMI belum bisa menikmati hangatnya rumah sendiri, mereka harus karantina dulu di tempat isolasi di balai desa atau kelurahan. “Satgas desa dan puskesmas memantau kesehatan PMI, sebelum pulang ke rumahnya juga kembali dilakukan skrining. Yang bagus ya diswab, tapi skrining itu kami serahkan ke Dinkes,” katanya. [end/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar