Peristiwa

Jelang Idul Adha, Pemkab Gresik Belum Gagas Aturan Detail

Foto ilustrasi

Gresik (beritajatim.com) – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1441 H tiga hari ke depan, Pemkab Gresik (Gugus Tugas) sejauh ini belum menggagas peraturan secara terperinci. Pemda setempat hanya berpatokan pada Perbup 22 tahun 2020 tentang Transisi New Normal.

Dalam regulasi itu hanya diatur soal protokol kesehatan secara umum terkait pelaksanaan kegiatan keagamaan di rumah ibadah. Baik itu jumlah jamaah, pengecekan suhu tubuh, hingga menerapkan jarak aman atau phsycal distancing.

Namun, di aturan Perbup 22 tahun 2020 belum mengatur pelaksanaan sholat Idul Adha yang dilakukan di lapangan. Sebab, tidak menutup kemungkinan ada warga yang menggelar sholat Idul Adha di tempat terbuka.

Menanggapi hal ini, Kabag Humas dan Protokol Pemkab Gresik, Reza Pahlevi menuturkan, teknis protokol kesehatan saat sholat Idul Adha tetap mengacu pada Perbup nomor 22 tahun 2020. “Aturan protokol kesehatannya ada di situ dan tiap poinnya ada,” ujarnya, Selasa (28/07/2020).

Sejauh ini, masjid-masjid juga belum dipetakan berdasarkan zona. Apakah pelaksanaan sholat dibatasi jumlah jamaah, atau teknis protokol kesehatan lain secara rinci.

Jika mengacu pada data Satgas Covid-19 di Kabupaten Gresik. Kasus yang terpapar positif masih tinggi. Per hari ini (28/7) ada tambahan 43 kasus. Sehingga, pasien yang positif mencapai 1.734 orang.

Sementara pasien yang dinyatakan sembuh usai menjalani perawatan medis ada 967 orang setelah ada tambahan 53 orang. Kendati demikian, kalau tanpa aturan teknis yang terperinci akan sangat berisiko.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik, drg Syaifuddin Ghozali mengatakan, saat ini tren kesembuhan pasien Covid-19 terus meningkat. Untuk itu, dirinya menghimbau agar masyarakat tetap mematuhi aturan yang dibuat oleh pemerintah.

“Ada 854 orang yang masuk data kami tidak diketahui keberadaannya. Padahal, mereka terpapar positif. Solusinya, kami akan terus melakukan tracing mumpung pondok rehabilitasi dan observasi Stadion Gelora Joko Samudro (Gejos) sudah difungsikan,” ungkapnya.

Keberadaan tempat tersebut kata dia, hanya untuk menampung pasien berusia 17-50 tahun tanpa penyakit penyerta, tanpa gejala atau gejala ringan dan tidak sedang hamil.

“Untuk yang ada penyakit penyerta dan gejala yang cukup parah dirawat di rumah sakit,” pungkasnya. [dny/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar