Peristiwa

Jejak Terakhir Mahasiswi Cantik Sebelum Tenggelam di Sungai Brantas Bersama Kekasih

Lutvi Dwi Saptina atau Septi semasa hidup. [foto/istimewa]

Jombang (beritajatim.com) – Sekat antara hidup dan mati tak setebal kain kafan. Saat bedug magrib masih berkirim kabar kepada keluarga, namun malamnya sudah meregang nyawa. Itulah yang dialami oleh mahasiswi cantik asal Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh, Jombang, Lutvi Dwi Saptina atau Septi (23).

Dia ditemukaan dalam keadaan meninggal setelah perahu penyeberangan Sungai Brantas mengelamai kecelakaan di Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang. Septi tidak sendiri, sang kekasih Serda Dadang juga mengalami nasib serupa.

Keluarga seakan tak percaya, Septi pergi untuk selamanya. Jasad mahasiswi salah satu kampus di Jombang ini ditemukan pada Selasa (3/3/2020) di penyeberangan Sungai Brantas Desa/Kecamatan Kesamben. Keluarga masih ingat dengan jelas detik-detik terakhir Septi meninggalkan rumah. Jejak-jejak terakhir Septi masih terekam dengan jelas di benak kerabatnya. Dia berpamitan untuk menjemput Dadang Agung Wicaksono (21).

Paman Septi, Ali Sofwan menceritakan, pada Sabtu (29/2/2020) sekitar pukul 17.00 WIB, keponakannya itu berpamitan kepada orangtuanya untuk menjemput Dadang di halte bus Braan, Bandar Kedungmulyo. Jarak antara rumah Septi dengan halte tersebut kurang lebih 20 kilometer. Septi berangkat dengan mengendarai sepeda motornya.

Memang, setiap Sabtu, Serda Dadang yang berdinas di markas TNI Yon 521 Wirayuda Kediri ini pulang ke rumahnya di Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Nganjuk. Sebagai kekasih, Septi merasa punya ‘tugas’ untuk menjemput.

“Saat berangkat tidak ada firasat apa-apa. Septi berpamitan kepada orangtuanya, hendak menjemput Dadang di halte bus kawasan Braan. Karena penumpang dari Kediri, turunnya di halte tersebut,” kata Sofwan saat ditemui di depan kamar jenazah RSUD Jombang, Rabu (4/3/2020).

Gayung pun bersambut. Di halte yang merupakan persimpangan antara Kediri-Jombang-Nganjuk ini Septi berjumpa dengan pujaan hatinya. Mereka kemudian berboncengan menuju Dusun Sentanan Patianrowo yang berjarak sekitar 12 kilometer sembari menikmati senja.

“Saat beduk magrib, Septi sempat menelepon orangtuanya. Dia berkabar bahwa buka puasa di sana. Saat itu keponakan saya memang sedang menjalankan puasa Rajab. Jadi sekitar pukul 18.00 WIB masih berkirim kabar. Makanya kami sangat syok ketika ada kabar tentang perahu tenggelam dan Septi ada di dalamnya,” ujar Sofwan mengenang.

Diberitakan sebelumnya, perahu penyeberangan Sungai Brantas mengalami kecelakaan pada Sabtu (29/2/2020) sekira jam 22.00 WIB. Perahu berisi 5 penumpang dan 1 pengemudi serta tiga sepeda motor. Perahu berangkat dari Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Nganjuk, menuju Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang.

Di tengah perjalanan mesin perahu tiba-tiba mati karena arus deras. Perahu hanyut ke arah utara, kemudian penumpang menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke sungai. Dua orang berhasil selamat, sedangkan empat korban lainnya dalam pencarian. Dua korban selamat adalah Feriansyah (25), warga Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patinrowo, Nganjuk dan Sukar (55), warga Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo.

Pencarian hari kedua, Senin (2/3/2020), tim SAR menemukan dua jenazah korban di penyeberangan Desa/Kecamatan Megaluh atau delapan kilometer dari lokasi kejadian. Hasil identifikasi, dua jenazah itu masing-masing Serda Dadang Agung Wicaksono, warga Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrwo, Nganjuk, dan Surip (45), warga Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang.

Pencarian hari ketiga, Tim SAR menemukan jasad perempuan di penyeberangan Sungai Brantas Desa/Kesamben, Jombang, Selasa (3/3/2020). Hasil identifikasi, korban adalah Lutvia Dwi Septina atau Septi (23), warga Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh. Dengan demikian, masih ada satu korban yang hilang, yaitu Anista Sugandis atau Anis (18), warga asal Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar