Peristiwa

Tahlilan Hari ke-7

Jejak Agus Lenon di Kota Santri

Jombang (beritajatim.com) – Aktivis Jombang era 90-an berkumpul kembali, Kamis (16/1/2020) malam. Kedatangan mereka untuk memperingati tujuh hari meninggalnya aktivis Agus Edy Santoso atau Agus Lenon. Para aktivis tersebut datang dari berbagai kota. Ada yang dari Jakarta, Semarang, Kediri, Surabaya, serta Sidoarjo. Mereka ini pada era 90-an adalah mahasiswa Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang.

Peringatan tujuh hari meninggalnya Agus Lenon dilakukan dengan pembacaan yasin dan tahlil serta testimoni terhadap almarhum dari para sahabat. Acara yang berlangsung di pendapa studio RCTV (Ringin Contong Televisi) Jl DR Soetomo Jombang ini berlangsung cukup gayeng. Nuansa ‘kangen-kangenan’ juga terlihat dalam acara itu. Kerabat Agus Lenon dari Surabaya juga hadir dalam tahlilan tersebut.

Salah satu aktivis, Syamsunar mengatakan, selain memperingati tujuh hari meninggalnya Agus Lenon, juga dilakukan doa bersama untuk aktivis pro-demokrasi yang sudah meninggal, yakni Hadi Ciptono alias Kacik. Juga sejumlah aktivis Undar yang sudah berpulang seperti Agung Setyawan, Arif Jemblung, serta beberapa nama lain.

Pria yang tinggal di Bogor ini mengatakan, dinamika pergerakan mahasiswa di Kota Sanri Jombang pada era 90-an cukup dinamis. Menurut Syam, aksi mahasiswa pertama di Undar dilakukan pada 1990 dengan isu internal, yakni menurunkan wakil rektor. Demonstrasi tersebut dikenal dengan nama Trituma (Tiga Tuntutan Mahasiswa).

Kemudian pada 1991, aksi turun jalan kembali dilakukan dengan tuntutan pembubaran SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Nah, dalam aksi ini mahasiswa mulai keluar kampus. Aksi di Jombang saat itu, menurut Syam, juga diikuti santri dari empat pesantren besar di Jombang. “Jumlah massa sangat besar saat itu. Karena selain mahasiswa, ribuan santri juga ikut turun ke jalan,” ujarnya.

Bagimana pertalian aktivis Undar dengan Agus Lenon dan Kacik? Syam mengungkapkan, kontak dengan dua aktivis tersebut terjadi saat mahasiswa Undar melakukan advokasi kasus Pasar Legi pada 1992. “Saat itulah saat dikenalkan dengan Kacik. Yang mengenalkan Cak Dil (adik kandung budayawan Emha Ainun Nadjib). Dari situlah jaringan aktivis antar kota terbangun. Hingga akhirnya tersambung dengan Agus Lenon,” ujar bapak dari dua anak ini.

“Nah, Agus Lenon dan Kacik inilah yang banyak mengenalkan kami dengan jaringan antar kota. Sebelum mengenal mereka demonstrasi yang kami lakukan kurang bertaji. Istilahnya, dua orang itulah yang melakukan ideologisasi. Makanya malam ini kami mengirimkan doa untuk dua mentor gerakan tersebut,” sambungnya.

Testimoni serupa dilontarkan Misbahul Zakaria atau Ipul. Pria berambut gondrong ini mengenal Agus Lenon pada 1994. Pertemuan mereka semakin intens pada 1995. Yakni ketika Ipul bersama Syamsunar dan Romli diseret ke meja hijau. Mereka dituduh menghasut buruh CV Maska Perkasa. Persidangan dengan tiga terdakwa mahasiswa itu berjalan cukup lama, satu tahun lebih.

Ipul kemudian menyempatkan diri menemui Agus Lenon di sekretariat PIPHAM di kawasan Cawang Jakarta. “Saat itu Lenon sempat menyarankan agar saya kabur ke Belanda. Karena menurutnya sudah terlalu banyak aktivis yang dijadikan tumbal orde baru. Namun upaya itu akhirnya tidak terlaksana,” kata Ipul.

Agus Lenon mengubungi sejumlah pengacara untuk mendampingi Ipul Cs dalam persidangan. Walhasil, pengacara seperti Adnan Buyung Nasution, Artijo Alkosar, Munir, Bambang Widjajanto, dan sederet pengacara kondang lainnya mendampingi tiga aktivis Jombang yang sedang dijerat pasal karet.

“Kami didampingi pengacara-pengacara hebat. Semua itu tidak lepas dari peran Agus Lenon. Beberapa bulan sebelum tutup usia, Agus berpesan kepada saya agar ketika dia meninggal, dibacakan tahlil. Alhamdulillah, malam ini kami bisa mengumpulkan teman-teman untuk doa bersama serta tahlilam untuk Agus Lenon,” urainya.

Sementara Rindra Iman Lesmana, aktivis lainnya mengungkapkan, dirinya banyak belajar dari dua mentor pergerakan tersebut. Rindra masing ingat terlibat dalam mengkampanyekan kasus Marsinah bersama keduanya. Kampanye kasus tersebut dilakukan mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga nasional.

“Kalau tidak ada Kacik dan Agus Lenon, tidak ada yang tahu siapa Marsinah. Tidak ada yang tahu bahwa pembunuhan Marsinah melibatkan oknum negara. Saya banyak diajari oleh Kacik dan Lenon dalam melakukan propaganda. Ide-ide mereka selalu maju,” ujar pria asal Jakarta yang kini tinggal di Kediri ini.

Bagiamana Agus Lenon di mata mantan tapol (tahanan politik)? Dalam tahlilan itu dua eks tapol asal Jombang yang hadir. Mereka adalah Suwito Pay dan Adi Kurniawan. Pay dan Adi pernah mendekam di Rutan Salemba karena dijerat pasal penghinaan terhadap Presiden Soeharto. Bersama aktivis dari kota lain mereka membentuk FAMI (Front Aksi Mahasiswa Indonesia). Selanjutnya, pada 14 Desember 1993, mereka aksi di depan gedung DPR RI dengan tuntutan ‘Seret Soeharto ke Sidang Istimewa’.

Aksi mereka dibubarkan aparat. Sebanyak 21 mahasiswa ditangkap, lima di antaranya berasal dari Jombang. Mereka adalah Piryadi Kartodiharjo, Munasir Huda, M Rifqi, Suwito Pay, serta Adi Kurniawan. “Harus diakui bahwa gerakan mahasiswa di Jombang tidak bisa dilepaskan dari peran kawan Agus Lenon. Lenon membawa benih-benih nilai demokrasi dan permasalahan kerakyatan kepada kawan di sini,” ujar Piryadi yang menyampaikan testimoninya secara tertulis.

Piryadi mengatakan, ketika aktivis asal daerah berada di Jakarta, maka yang menjadi jujugan adalah tempat Agus Lenon, yakni di Jl Dewi Sartika, Gang Langgar, Jakarta. “Lenon lah yang mengajak saya untuk ikut merasakan penderitaan rakyat tertindas pada saat orde baru. Lenon mengajak saya ke Blangguan Situbondo, Sendan Pasir dan Sumber Klampok Bali, serta sejumlah tempat lain yang terjadi konflik,” sambungnya.

Agus Jui Purmawan, mantan Ketua SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) Undar juga menyampaikan hal serupa. Jui lebih membeber persetuhannya dengan Agus Lenon dalam jaringan pers mahasiswa. Juga mengenal Agus Lenon lewat buku-buku yang disuntingnya.

“Kalau saya menggarisbawahi yang dikatakan kawan-kawan, Agus Lenon adalah sosok yang rajin melakukan roling atau silaturahmi. Dia bergerak dari kota satu ke kota lain untuk melakukan pengirganisiran. Malam ini kita berkumpul di sini juga digerakkan oleh kekuatan silaturahmi. Sehingga bisa bersama-sama menggelar tahlil untuk almarhum. Saya yakin, acara seperti ini juga dilakukan di kota-kota lain. Bukan hanya di Jombang,” ujar pria kelahiran Jember ini.

Hadir pula mantan aktivis mahasiswa yang kini menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Sidoarjo, Sumi Harsono. Sumi mengenang pengalamannya saat melakukan solidaritas terhadap buruh Maska. Bahkan, pria berkulit putih ini bercerita sempat diburu aparat. Sumi bersembunyi di Tulungagung. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

“Pengalaman itulah yang mengajarkan kepada saya untuk selalu berpihak kepada orang kecil. Alhamdulillah di Sidoarjo saya juga aktif mendampingi PKL (pedagang kaki lima) dan tukang becak motor. Ilmu yang saya dapat dari Jombang tentang pergerakan, saya bawa ke kampung halaman,” kata Sumi berkisah.

Selain para aktivis, tahlil tujuh hari meninggalnya Agus Lenon juga dihadiri mantan buruh CV Maska Perkasa. Mereka juga menyampaikan pengalamannya. Saat itulah mereka mengenal Kacik serta Agus Lenon sebagai mentor gerakan. Dari mereka berdua, buruh diajari berorganisasi, diajar tentang undang-undang perburuhan, serta hak-hak buruh yang saat itu terampas.

“Saya pernah berada di tempatnya Agus Lenon selama satu minggu. Saya dikenalkan dengan kantong-kantong pergerakan di Jakarta. Termasuk dikenalkan dengan YLBHI,” kata Slamet, mantan buruh CV Maska yang kini tinggal di Sidoarjo.

Agus Edi Santoso yang dikenal teman-temannya dengan nama Agus Lenon adalah salah seorang aktivis senior jaringan aktivis ProDem (Pro Demokrasi). Pria kelahiran 24 Agustus 1960 ini menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 21.11 WIB, Jumat (10/1/2020)di RS Harapan Kita Jakarta. Agus Lenon menjalani perawatan intensif karena karena penyakit jantung yang dideritanya. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar