Peristiwa

Jaringan Madura Milenial Tawarkan Nama Mujahid Ansori Dampingi MA

Surabaya (beritajatim.com) – Koordinator Jaringan Madura Milenial,  Iksan Kamil Sahri menawarkan nama RPA Mujahid Ansori sebagai alternatif untuk mendampingi Machfud Arifin (MA) sebagai bakal calon wakil wali kota.

“Mujahid Ansori juga menjadi tokoh Ikatan Keluarga Madura (Ikama) yang sangat dihormati di sana. Sehingga, dengan jumlah komunitas Madura yang besar serta terkenal loyal kepada pemimpinnya, Mujahid bisa menjadi alternatif sebagai pasangan MA, jika ingin mendulang suara,” tegasnya kepada wartawan di Surabaya, Kamis (9/7/2020).

Sekadar diketahui, MA telah mengantongi tiket untuk maju sebagai bakal calon wali kota Surabaya. Ia telah didukung oleh delapan partai, yakni PKB, Gerindra,  Golkar, Demokrat, NasDem, PAN, PPP dan PKS.

Partai-partai pendukungnya tentu mengajukan bakal calon wakil wali kota kepada Machfud, termasuk juga dari unsur Nahdliyyin.

“Dari unsur Nahdliyyin ini muncul nama Lia Istifhama, Gus Hans dan Dwi Astutik. Hanya ketiganya ini juga tak solid, baik di tingkatan elit Nahdliyyin di Surabaya juga di akar rumput. Nama mereka juga dianggap tidak terlalu menjual,” tutur Iksan.

Calon Walikota Surabaya Machfud Arifin

Dari berbagai pilihan itu, menurut dia, lalu munculah wacana untuk menarik unsur masyarakat Madura di Surabaya. Terutama etnis Madura di Surabaya sangat besar yang terkonsentrasi di pasar-pasar tradisional di Surabaya serta Surabaya Utara yang padat.

Nama-nama yang muncul di antaranya adalah M Sholeh dan RPA Mujahid Ansori. Dua sosok tokoh Madura yang memiliki karakter yang cukup berbeda.

“Jika M Sholeh dikenal sebagai pengacara ulung yang sering menang perkara di MK, maka Mujahid Ansori justru dikenal sebagai tokoh politisi kawakan sekaligus mubaligh serta tempat para masyarakat Madura di Surabaya berkonsultasi,” jelasnya.

Popularitas M Sholeh saat ini jelas lebih tinggi dibanding Mujahid Ansori, hanya saja popularitasnya ini tidak dibarengi dengan elektabilitas yang tinggi. Dalam beberapa kali kontestasi kepala daerah di Surabaya dan Sidoarjo, nama M Sholeh ini timbul tenggelam.

Berbeda dengan M Sholeh, Mujahid Ansori memang tidak terlalu dikenal di media.

“Tapi justru ini menjadi poin bagi dia. Mengingat bahwa Mujahid adalah tokoh kawakan yang memiliki segudang pengalaman, mulai perlawanannya pada pemerintah Orde Baru hingga duduk di kursi DPRD Jatim selama tiga periode. Dunia pemerintahan bukanlah hal yang asing bagi dirinya. Ini adalah benefit yang dibutuhkan oleh Machfud Arifin. Tokoh seperti Mujahid jika dikenalkan ke piblik secara masif, maka elektabilitasnya diperkirakan akan meningkat pesat,” tukasnya.

Unsur bahwa Mujahid adalah tokoh agama yang sering menyapa masyarakat Madura selama ini juga menjadi nilai plus di.

“Ia sudah punya modal sosial itu. Modal sosial lain yag dimiliki oleh Mujahid tentu adalah jaringan yang dapat digerakkan. Ia adalah Ketua IKA PMII Jawa Timur (2009-2016) dan sampai saat ini menjadi Sekretaris Majelis Pertimbangan di organisasi yang sama. Jaringan PMII ini sangat bisa digerakkan seperti yang dilakukan Khofifah pada perhelatan pilkada lalu. Basis Surabaya sebagai masyarakat Islam yang terafiliasi ke NU menjadi ladang besar bagi jaringan PMII Mujahid untuk bergerak,” pungkasnya. (tok/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar