Peristiwa

Jamaah Ngaji Ajak Peminum Insyaf Berbagi Sedekah ke Tuna Wisma

Malang (beritajatim.com) – Majelis Tasawuf Sunan Drajat Malang memperingati malam lailatul qadr dengan mengajak warga dan sejumlah peminum insyaf memberikan sedekah makanan kepada fakir miskin, tunawisma, dan orang-orang gangguan jiwa yang tersebar di Kota Malang.

Koordinator Majelis Tasawuf Sunan Drajat Malang, Gus Imam Syuhadak mengatakan, gerakan sedekah ini untuk mencari berkah di malam lailatul qadr dan sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan selama ini.

“Gerakan sedekah berbagi makanan kepada fakir miskin, tuna wisma, orang-orang yang mengalami gangguan jiwa ini kami lakukan sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Mereka orang yang lapar, kadang diacuhkan, jadi perlu kita perhatikan,” kata Gus Imam Syuhadak, Rabu (29/5/2019) malam.

Menurut Gus Hadak, kegiatan ini dilakukan untuk membentuk kerukunan antar masyarakat, mempertahankan adat dan budaya serta mengajarkan kepada semua orang agar memiliki jiwa sosial kepada masyarakat tanpa memandang sara, pangkat, derajat, kaya maupun miskin.

“Kami ingin di malam lailatul qadr ini memberikan pesan kepada masyarakat agar selalu mempunyai rasa welas asih kepada siapapun. Harapannya membuat masing-masing orang untuk menjadi suri tauladan yang baik, sehingga tidak ada lagi perpecahan atau pertikaian di masyarakat. Masyarakat guyub rukun,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kegiatan ini sekaligus mengikuti langkah dari ajaran Sunan Drajat yang mengajarkan kepedulian dan rasa sosial tinggi antar sesama. Beberapa ajaran Sunan Drajat yakni pertama, “Menehono teken marang wong kang wuto” (Berilah tongkat kepada orang yang buta). Itu artinya, kalau kita diberikan ilmu, semestinya meskipun sedikit, hendaklah diajarkan kepada orang lain

Kedua “Menehono mangan marang wong kang luwe“, berilah makan pada orang yang lapar. Kalau kita diberikan kelebihan rezeki, hendaklah kita ingat kepada fakir miskin, yatim piatu dan lain-lain.

Ketiga “Menehono ngiyup marang wong kang kudanan”, berilah payung kepada orang yang kehujanan. Kalau kita diberikan derajat, pangkat, kedudukan, jabatan, hendaklah bisa mengayomi orang yang menderita, yang lemah, orang yang dibawah kita.

Keempat, “Menehono busono marang wong kang wudo”, berilah pakaian kepada orang yang tidak berbusana. Maksudnya, kalau kita tahu ada seperti contoh ada saudara-saudara kita yang kebetulan tidak punya tata kerama, sopan santun, hendaklah kita beri pengertian kepadanya, agar dia lebih santun.

“Selain untuk melestarikan adat budaya dengan membagikan makanan ke warga kegiatan ini sekaligus melatih rasa empati pada sesama,” tandasnya. [luc/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar