Peristiwa

IPSI: Gesekan Antarpesilat di Jember Sering Terjadi Sejak 2015

Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia Jember Agus Supaat

Jember (beritajatim.com) – Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia Agus Supaat menilai, gesekan antarpesilat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sering terjadi sejak 2015. IPSI sendiri berkonsentrasi pada pembinaan prestasi.

“Begitu tahun 2015, perguruan-perguruan makin membesar dan anggota-anggotanya sampai ke tingkat kecamatan, dan kalau perlu sampai ke desa dan dusun,” kata Agus, dalam rapat dengar pendapat membahas situasi keamanan dan ketertiban di gedung DPRD Jember, Kamis (27/5/2021).

Ada 33 perguruan silat di Jember. Namun ada lima perguruan yang memiliki jumlah anggota sampai desa, yakni Persaudaraan Setia Hati Terate, Tapak Suci, Persaudaraan Silat Nasional Asad, Pagar Nusa (Pengurus Cabang dan Padepokan), dan pencak organisasi. “Kalau (perguruan) lain, rata-rata memiliki 5-10 ranting, tidak sampai ke 31 kecamatan bahkan sampai desa,” kata Agus.

Agus menilai, ini faktor pemicu gesekan antarperguruan di tingkat bawah. “Tentu bukan faktor tunggal, di samping ada faktor lain yang menyebabkan hal itu terjadi. Monggo, kalau perguruan dan IPSI dianggap salah. Kami tidak diam. Kita rumuskan langkah-langkah supaya hal ini tidak terjadi,” katanya.

Menurut Agus, benturan antaranggota perguruan silat terjadi di pinggiran kota Jember. “Ledokombo, Mayang, Umbulsari, Puger, Ambulu. Sehingga dari kenyataan ini, kami membuat usulan kepada jajaran Polres Jember dan dinas terkait memfasilitasi dibentuknya forum perguruan pencak silat sampai tingkat desa. IPSI siap dilibatkan untuk pembentukan forum ini,” katanya.

IPSI juga mengusulkan kepolisian dan dinas terkait agar menerbitkan surat kelayakan operasional perguruan silat. “Itu sewaktu-waktu bisa dicabut, tentu melalui tahap peringatan, untuk perguruan silat yang selalu dan selalu mencederai rasa kebersamaan dan membuat keresahan di masyarakat,” kata Agus.

Ketua Pagar Nusa Jember Fathurozzi mengatakan, selama ini anggotanya selalu menjadi korban insiden penganiayaan, karena beratribut perguruan silat tersebut. Terakhir adalah insiden penganiayaan oleh anggota perguruan silat lain terhadap anggota Pagar Nusa yang memakai atribut.

Dalam sebagian kejadian tersebut, korban takut melapor karena ada pihak yang menakut-nakuti dan memaksa untuk menyelesaikan melalui jalur kekeluargaan. “Bahkan untuk melapor ke polsek saja ketakutan,” katanya.

Fathurrozi berharap hal ini tidak terulang lagi. “Indonesia ini merdeka. Jangan sampai ada premanisme, persekusi, dan sebagainya. Kalau diterus-teruskan seperti ini, mau jadi apa Indonesia ini,” katanya.

Fathurrozi berharap agar korban kekerasan tersebut diberi santunan, terutama yang dalam kondisi parah. “Pemerintah perlu hadir,” katanya. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar