Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Ini Temuan Menarik di Situs Gemekan Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) – Dari ekskavasi tahap dua Situs Gemekan, Tim Ekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim menemukan sejumlah temuan menarik. Hal ini diungkap Arkeolog Ismail Lutfi saat mengikuti ekskavasi di Dusun Kedawung, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Arkeolog Ismail Lutfi mengatakan, jika pada ekskavasi tahap dua Situs Gemekan ada sejumlah temuan menarik. “Dan itu menjadi bahan kajian kita di ekskavasi mendatang untuk lebih mengungkap secara maksimal keberadaan dari Situs Gemekan ini,” ungkapnya, Minggu (6/3/2022).

Masih kata Lutfi, temuan yang menjadi salah satu bagian penting untuk menjadi diskripsi dari Situs Gemekan antara lain yakni temuan-temuan sumuran. Temuan tersebut membawa kepada sebuah pemahaman yang lebih luas sekaligus menjadi Pekerjaan Rumah (PR).

“Misal, di sumuran itu ada temuan berupa artefak dari bahan perunggu yang ternyata ada dua keping yang menjadi satu kesatuan yang disebut menjadi cermin atau darpana. Dari temuan itu, kita berfikir apakah lazim darpana itu memang ditempatkan pada sumuran candi?,” katanya.

Menurutnya, baru kali ini Tim Ekskavasi BPCB Jatim menemukan temuan darpala pada sebuah candi. Jika lazim, lanjut Lutfi, di tempat lain tidak ditemukan darpana. Namun jika tidak lazim, tegas Lutfi, kejadian apa yang membuat darpana masuk di sebuah candi karena darpana merupakan jenis artefak yang termasuk kuno.

“Bukan buatan masa modern. Jadi ini menarik. Yang kedua, bahwa sumuran itu dari sisi laporan tanah yang ditarik ke atas bukan lagi tanah biasa tapi dengan melakukan pencucian pada tanah itu, kita tahu bahwa tanah itu banyak material dari bata yang hancur. Ini menjadi pertanyaan. Mengapa bata-bata yang hancur itu bisa masuk atau berada pada sumuran itu?,” jelasnya.

Hal tersebut, lanjut Lutfi, harus dikaji apakah ada hubungannya dengan proses pengrusakan sumuran. Karena dari hasil ekskavasi, di bagian barat laut pengrusakan terlihat jelas sampai dengan dinding sumuran sisi timur laut. Sehingga temuan tersebut menjadi PR Tim Ekskavasi BPCB Jatim.

“Mengapa ada tanah yang tidak lazim di sumuran itu? Temuan terakhir, awalnya tidak kita duga. Di bagian timur dari diduga tangga naik itu terdapat tiga struktur bata yang ukurannya hampir sama semua, berbentuk bujur sangkar. Ukuran 160×160 cm,” tuturnya.

Melihat formasi tiga struktur bata di depan bangunan utama, Tim Ekskavasi memprediksi jika tiga struktur bata tersebut merupakan tempat dewa-dewa. Dari sejumlah candi yang ada di masa lebih tua baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, ada kecenderungan candi utama dihadapkan struktur lain biasanya merupakan diperuntukkan untuk wahana.

“Yang Tengah itu untuk wahana Dewa Siwa berupa nandi atau lembu, selatan untuk Dewa Brahma berisi angsa, utara untuk Dewa Wisnu atau garuda. Ini dugaan kita karena kita belum mendapatkan data konkretnya. Kita hanya berangkat dari analogi,” tegasnya. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar