Peristiwa

Di Lapas Kelas I Porong Khatam Al Qur'an 149 Kali

Ini Pesan Terakhir Mantan Wali Kota Mojokerto

Suasana duka saat jenazah datang di rumah duka. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Selama menjalani masa tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya di Kecamatan Porong, Kabupaten Mojokerto, mantan Wali Kota Mojokerto, Mas’ud Yunus khatam Al Qur’an hingga 149 kali. Ini lantaran setiap selesai sholat, ia membaca satu juz.

Sang istri, Siti Amsah Mas’ud Yunus mengucapkan terima kasih kepada para takziah yang datang untuk mendoakan suaminya. “Kami ucapkan terima kasih kepada semua yang datang takziah di rumah kami untuk memberikan penghormatan terakhir,” ungkapnya, Kamis (27/8/2020).

Sang istri berharap, mudah-mudahan Allah SWT menjadikan mudahnya suaminya di dalam ruang kuburnya nanti. Karena, lanjut Siti Amsah, doa semua para takziah yang datang menjadi jalan sang suami meninggal secara khusnul khotimah.

“Mulai sakit kemarin, masuk RS Mitra Keluarga. Tadi pagi, ada agak sulit akhirnya nyampek mengumpulkan data akhirnya berangkat dari Lapas ke RS jam 10. Anak saya sudah standby di sana. Alhamdulillah saya bisa mendampingi bapak, yang lainnya tidak diperbolehkan bukan tidak mau,” katanya.

Menurutnya, sang suami menitipkan pesan agar hati-hati terhadap Covid-19. Menurut Kyai Ud (sapaan akrab Mas’ud Yunus, red), virus corona cukup kecam karena sudah banyak temannya yang terpapar virus tersebut. Namun tegas Siti Amsah, saat itu suaminya belum sakit.

“Saya disuruh hati-hati, masa corona ini kecam bu. Katanya gitu, teman saya banyak yang sakit. Waktu itu bapak belum sakit, masih aktif kegiatan di masjid dan bisa mengkhatamkan Al Quran 149 kali selama di Lapas. Bisa ngajari Wali Kota dan Bupati yang tidak bisa ngaji, membimbing sampai khatam berkali-kali,” ujarnya.

Selama di dalam Lapas Kelas I Surabaya, Kyai Ud selalu ingat terhadap orang yang tidak punya ketika masuk rumah sakit. Menurutnya, suaminya merupakan orang yang memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi. Meski diakuinya, suaminya bukan orang kaya.

“Di lapas itu, ada orang tidak punya, pak ud juga tidak punya tapi saat ada yang masuk RS tiap Jumat itu. Sosialnya besar sekali, Mudah-mudahan amal kebaikan diterima oleh Allah SWT. Orang-orang yang kesini katanya kok kehilangan. Saya matur suwun sanget kepada panjengan semua,” ucapnya.

Sementara itu, sang adik, Shobiroh menambahkan, keluarga terakhir bertemu pada bulan Maret 2020 lalu. “Karena setelah itu, kita belum bisa ke sana hingga sampai saat ini dan beliau masih dalam keadaan sehat. Kalau pesan terakhir adalah semangat, semangat,” tambahnya.

Masih kata Shobiroh, Kyai Ud selalu mengingatkan agar keluarga baik susah baik senang harus tetap bersatu. Keluarga juga diminta untuk aktif dalam pengajian dan organisasi serta untuk mengutamakan mengaji. Almarhum juga meminta untuk selalu menolong yang sedang dalam kesusahan.

“Aktifitas kalau hari Rabu ngaji, sore istighosah. Biasanya tiap Sabtu dan Selasa bergiliran menjenguk ke sana. Di Lapas, Yai Mas’ud sudah mengkhatamkan Qur’an 120 kali. Setiap selesai sholat itu membaca Al Qur’an satu jus, minimal 5 jus selama sehari,” jelasnya

Selama menjalani masa hukuman di Lapas Kelas I Surabaya, Kyai Ud membuat buku. Ada 13 buku yang sudah dibukukan, seperti soal pengajian yang dipimpinnya yakni Al Ummahat Mojokerto, tentang haji dan buku untuk sholat khusuk.

“Kepribadian luar biasa, dengan saudara sangat mengayomi. Jari lima kita lestarikan. Kalau ada apa-apa tetep begini dan masalah ibadah sangat bagus. Selasa kemarin sakit dan sudah sembuh tapi kemarin sakit lagi, sesak,” urainya. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar