Peristiwa

Ini Penyebab Longsornya Tebing Jembatan Simo Bojonegoro

Bojonegoro (beritajatim.com) – Bangunan plengsengan penahan jembatan Glendeng penghubung Kabupaten Tuban dengan Kabupaten Bojonegoro longsor. Akibatnya, sisi utara bangunan jembatan yang ada di Desa Simo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban ambles.

Longsornya tebing Sungai Bengawan Solo yang mengancam bangunan infrastruktur jembatan itu menurut Petugas Operasi dan Pemeliharaan (OP) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Hidayat, diduga akibat dari masifnya penambangan pasir ilegal yang ada disekitar.

“Tambang pasir itu bisa berdampak longsor dengan radius hingga 500 meter sampai 1.000 meter dari titik lokasi penambangan. Apalagi, penambangan pasir itu sekarang bisa disebut semi mekanik, karena timba yang dipakai mengeruk pasir cukup besar,” ujarnya, Selasa (3/11/2020).

Menurut Hidayat, sebenarnya di sekitar lokasi jembatan sudah ada rambu-rambu larangan untuk tidak melakukan penambangan pasir baik secara mekanik maupun tradisional. Penambangan pasir yang ada di sekitar jembatan itu dinilai ilegal karena tidak ada pengajuan izin.

Selain tambang pasir ilegal, pemanfaatan potensi sungai terpanjang di Pulau Jawa yang dipakai untuk kebutuhan irigasi pertanian sejauh ini juga tidak ada izin.

“Selama ini tidak ada yang mengajukan izin untuk pemanfaatan Sungai Bengawan Solo, baik itu pengambilan pasir maupun pengambilan air untuk pertanian,” jelasnya.

Beberapa titik longsor di Sungai Bengawan Solo yang mengancam infrastruktur yang terdata di BBWS diantaranya, di Kelurahan Jetak, Desa Sale, Kecamatan Kalitidu, dan di Kecamatan Balen mengancam bangunan rumah, serta di Kecamatan Kalitidu, yang mengancam bangunan Bendung Gerak.

“Biasanya kenaikan air gak pengaruh longsor, justru saat air surut ini yang mengancam tebing longsor,” pungkasnya.

Sementara diketahui, akibat amblesnya Jembatan Glendeng tersebut, arus lalu lintas dialihkan ke jalur lain. Bagi pengguna jalan, yang menggunakan roda empat, khususnya truck bermuatan dialihkan ke jalur Bojonegoro – Parengan, atau melintas di Desa Menilo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Hal itu dilakukan untuk mengurangi beban jembatan.

Apalagi, di Desa Simo, terdapat pembangunan infrastruktur jalan yang mengakibatkan arus lalu lintas dilakukan dengan sistem buka tutup. “Kendaraan yang mengantre itu biasanya di atas jembatan, sekarang ditempatkan sebelum jembatan,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bojonegoro, Andik Sudjarwo. [lus/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar