Peristiwa

Ini Misteri Angka 7 Bagi Warga Diaz Lombok Utara

Lombok (beritajatim.com) –  Prajurit Pasmar 2 Korps Marinir yang tergabung dalam Kompi II Satgas Percepatan Pembangunan Lombok II berhasil menyelesaikan pembangunan Rumah Tahan Gempa (RTG) di Dusun Liaz Genggelang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kamis (18/06/2020).

RTG yang telah diselesaikan oleh prajurit Marinir tersebut yang sudah tujuh kali ganti tukang namun belum terselesaikan, yaitu sudah satu tahun lebih sejak diterimanya bantuan pada akhir tahun 2018, namun masih dalam kondisi hanya berupa tiang cor, sehingga warga pemilik rumah selama itu tinggal di hunian sementara (HUNTARA).

Kapten Marinir Sutadi selaku Komandan Kompi II menyampaikan bahwa menurut warga Liaz, prajurit  Marinir yang masuk ke Dusun Liaz pada akhir bulan Maret 2020 merupakan pihak ke-7 (tujuh) yang mengerjakan RTG tersebut.

Kesulitan yang harus dihadapi oleh prajurit adalah kondisi akses jalan masuk menuju lokasi pembangunan yang sangat sulit, karena terletak diperbukitan, sehingga material bangunan perlu diangkut secara manual untuk tiba di lokasi.

Namun dengan semangat mewujudkan impian warga untuk bisa segera memiliki dan menempati rumah yang layak, para prajurit Marinir tidak menghiraukan lelah dan letih yang dirasakan, hingga terselesaikan pembangunan RTG tersebut.

Disampaikan juga bahwa kondisi cuaca di dusun Liaz  yang hampir tiap hari turun hujan, karena memang posisinya berada di ketinggian sehingga setiap tukang yang datang, tidak sanggup untuk menyelesaikannya sesuai RAB (Rencana Anggaran Belanja) RTG yang ditentukan oleh pemerintah.

“Alhamdulillah dua hari sebelum hari raya Idul Fitri 1441 Hijriyah kemarin, 14 unit rumah sudah dapat diselesaikan, sehingga sesuai rencana dan harapan, warga bisa merayakan lebaran di rumah baru yang sudah setahun lebih mereka nantikan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dusun  Liaz, Syamsuji menyampaikan bahwa kedatangan prajurit Marinir merupakan solusi dan pertolongan yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada warga Liaz untuk bisa tinggal di rumah yang layak.

“Seperti yang pernah disampaikan oleh Bapak Marinir kepada kami bahwa tujuh dalam bahasa jawa adalah pitu, yang berarti pitulungan atau pertolongan sehingga angka tujuh buat warga Liaz sangat bermakna. “Terima kasih yang tak terhingga atas keikhlasan bapak-bapak Marinir dalam membantu kami, semoga senantiasa diberikan kemudahan dalam menjalankan tugas dimana pun berada,” pungkasnya.(ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar