Peristiwa

Perahu Terguling di Sungai Brantas

Ingat Anak Semata Wayang, Tangis Orangtua Serda Dadang Pecah

Suprapno dan Sumarmi, orang tua dari Serda Dadang Agung Wicaksono, saat ditemui di rumahnya Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Nganjuk, Senin (2/3/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Awalnya, Suprapno (52) bercerita panjang lebar tentang sang anak yang menjadi korban tergulingnya perahu penyeberangan Sungai Brantas, yakni Serda Dadang Agung Wicaksono (21). Namun di tengah itu, Suprpno terdiam. Sejurus kemudian air matanya tumpah. Dia menangis sesenggukan.

Sang istri, Sumarmi (48), langsung menenangkan. Dia mendekap suaminya dan meminta untuk bersabar. Beberapa lembar tisu ia sodorkan untuk menghapus air mata Suprapno. “Dia anak saya satu-satunya. Semoga diberikan mukjizat oleh Allah,” ujar Suprapno dengan suara tercekat, Senin (2/3/2020).

Suprapno dan Sumarmi adalah pasangan suami istri (pasutri), warga Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Nganjuk. Dia memiliki anak semata wayang, Serda Dadang Agung Wicaksono, anggota anggota TNI Yon 521 Wirayuda Kediri.

Di rumahnya bercat kuning, Suprapno dan Sumarmi, duduk lesehan di ruang tamu. Dia tidak sendiri. Sejumlah kerabat ikut menemani. Mereka menghibur pasutri asal Dusun Sentanan yang sedang dirundung duka. Pada dinding rumah tersebut, foto Serda Dadang dipajang berbingkai pigura. Dia mengenakan seragam TNI.

Suprapno berkisah, anaknya keluar dari rumah pada Sabtu (29/2/2020) sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu, Dadang bersama kekasihnya, Septi, serta temannya, Feriansyah (25). Malam itu Dadang memang hendak mengantarkan kekasihnya ke Desa Pacar Peluk, Kecamatan Megaluh, Jombang.

Suprapno tidak menyangka bahwa malah itulah pertemuan terakhir dengan sang anak. Karena sekitar dini hari, dia mendapatkan telepon dari Feriasnyah terkait tragedi yang menimpa Dadang. Kabar itu ibarat petir di siang bolong bagi Suprapno. Dia kemudian menuju lokasi kejadian untuk mencari sang anak.

Apakah Dadang tidak bisa berenang? Suprapno menjelaskan, anaknya mahir berenang. Sudah begitu juga sudah paham dengan medan yang ada di Sungai Brantas. Karena memang rumahnya dekat dengan sungai terpanjang di Jawa Timur itu. Suprapno menduga, Dadang berusaha menyelamatkan pacarnya. Sehingga dirinya ikut tergulung arus sungai.

Tim SAR menyusuri Sungai Brantas guna mencari korban tergulingnya perahu penyeberangan di Dusun Klaci, Desa Brodot, Senin (2/3/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]
Sumarmi menambahkan, Dadang diterima menjadi anggota TNI pada 2018. Sebelunya, Dadang sekolah di SMK PGRI (STM PGRI) Kertosono Nganjuk. Dadang lulus di sekolah tersebut pada 2016. “Daftar TNI dan diterima pada 2018. Dia memang pacaran dengan Septi,” kata Sumarmi lirih.

Diberitakan sebelumnya, perahu penyeberangan Sungai Brantas mengalami celaka pada Sabtu (29/2/2020) sekira jam 22.00 WIB. Perahu berisi 5 penumpang dan 1 pengemudi serta tiga sepeda motor. Perahu berangkat dari Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Nganjuk, menuju Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang.

Dua korban selamat adalah Feriansyah (25), warga Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patinrowo, Nganjuk dan Sukar (55), warga Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Sedangkan yang masih dalam pencarian

Di tengah perjalanan mesin perahu tiba-tiba mati karena arus deras. Perahu hanyut ke arah utara kemudian penumpang menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke sungai. Dua orang berhasil selamat, sedangkan empat korban lainnya dalam pencarian.

Mereka adalah Serda Dadang (22), warga Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Nganjuk. Dadang merupakan anggota TNI Yon 521 Wirayuda Kediri. Kemudian Septi (20), warga Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh, Jombang. Selanjutnya Surip (42), pengemudi perahu, warga Dusun Klaci, Desa Brodot, serta Anis (20), warga Klaci. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar