Peristiwa

Imbas PSBB, Kenek Bus di Terminal Mojokerto Merengek Minta Pekerjaan

Aksi kenek bus kuning merengek minta dicarikan pekerjaan. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Seorang kenek bus hijau jurusan Mojokerto-Surabaya merengek di hadapan petugas Dinas Perhubungan (Dishub), TNI/Polri yang berjaga di Posko Terminal Kertajaya Kota Mojokerto. Kenek yang diketahui bernama Slamet alias Serbet ini meminta pekerjaan lantaran bus hijau tak lagi beroperasi.

Ini menyusul pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya sehingga semua armada bus hijau berhenti beroperasi. Aksi warga Jombang pada, Kamis (30/4/2020) kemarin, sengaja direkam oleh Koordinator Terminal Kertajaya Kota Mojokerto, Ahmad Yazid.

Dalam video berdurasi 41 detik tersebut diunggah oleh pemilik akun Facebook (FB) Yazid Alfarizi. Slamet yang menggenakan switer warna biru dan celana bahan jeans tersebut merengek, menangis dan bersimpul meminta dicarikan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya.

Dalam video tersebut, Slamet menggunakan bahasa Jawa meminta dicarikan pekerjaan. “Aku ini sembarang tak lakoni Pak, ayo golekno pekerjaan kuli. Golekno pekerjaan kuli, ndak slamet matek tak lakonane, sembarang tak lakone, gae anakku, gae anak bojoko. Opo gak onok sing dipangan Pak. Demi Alloh hak, kuli kuli gelem,” keluhnya.

Dalam bahasa Indonesia, “Aku ini semua tak jalani Pak, ayo carikan aku pekerjaan kuli. Carikan pekerjaan kuli, tidak selamat mati saya kerjakan, semua akan saya kerjakan, buat anak ku, buat anak istri ku. Apa yang bisa dimakan Pak. Demi Allah, kuli kuli mau.

Koordinator Terminal Kertajaya Kota Mojokerto, Ahmad Yazid, membenarkan adanya kejadian tersebut. “Kemarin kan hari ketiga penerapan PSBB, mulai bingung gak kerja. Nah, Mas Slamet itu mulai pagi sudah bingung bus hijau gak ada yang jalan. Terus akhirnya teriak-teriak kaya orang stres itu,” ungkapnya, Jumat (1/5/2020).

Masih kata Yazid, pihaknya mengetahui kalau pria berusia 45 tahun ini mendadak bergumam selama hampir dua jam. Yakni mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB. Petugas Terminal Kertajaya mengetahui aksi Slamet setelah ada salah satu pedagang memberitahu petugas yang jaga.

“Dia (Serbet) teriak-teriak. Terus alhamdulilah ada petugas itu dari kepolisian, TNI, Dishub sendiri. Sekarang tiga harikan nggak jalan sama sekali (armada bus) kayak orang stres, nggak ada pemasukan sama sekali. Karena nggak ada penghasilan untuk anak istrinya, nggak bisa beli beras karena tidak punya uang, biasanya ada 20 bus terparkir disini,” ujarnya.

Yazid menambahkan, aksi bapak dua anak ini berhenti setelah Kepala Seksi Pengendalian dan Operasional, UPT LLAJ Mojokerto, Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur, Yoyok Kristyowahono sekaligus Kepala Terminal Kertajaya Kota Mojokerto mencoba mengajaknya berdiskusi.

“Dia (Slamet) didatangin sama Kepala Terminal Pak Yoyok, diajak komunikasi soalnya hampir dua jam begitu. Pak Yoyok sempat nanya puasa apa nggak, terus diajak ngopi. Yah mungkin karena dikasih untuk keperluan anak istrinya seperti sembako, terus akhirnya pulang. Hari ini nggak kelihatan memang dari pagi, mungkin karena tahu juga bus nggak jalan,” tegasnya.

Sebelum penerapan PSBB, lanjut Yazid, kondisi bus hijau memang sudah sepi penumpang, ditambah lagi ada penerapan PSBB. Aksi seperti itu baru pertama kali terjadi di Terminal Kertajaya. Namun sejumlah keluhan seperti penurunan di segala aspek, baik pedagang maupun pekerja moda transportasi umum sejak pandemi Covid-19 sudah beberapa kali diterima petugas. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar