Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Hujan Es di Surabaya, BMKG: Fenomena Masa Pancaroba

Surabaya (beritajatim.com) –  Hujan disertai angin kencang mengguyur Kota Surabaya, Senin (21/02/2022) sore. Selain air, Es batu berukuran jempol manusia dewasa juga jatuh di beberapa wilayah di Surabaya Barat.

Dari data yang berhasil dihimpun beritajatim, fenomena alam itu terjadi di daerah Kebraon, Lidah, Wiyung, Lakarsantri dan Kandangan.

Ilham (25) salah satu warga Jl Kebraon mengatakan, hujan es disertai angin cukup kencang itu sejak pukul 14.30 WIB. Bahkan, es yang menumpuk di belakang rumahnya seperti salju.

“Kurang lebih sejak pukul 14.30 WIB. Di belakang rumah itu numpuk sampai kayak salju,” katanya.

Sementara itu, Gatha (31) warga Jl Wiyung mengatakan hal senada. Namun, es yang jatuh lebih besar daripada yang dialami warga wiyung.

“Mulai jam 14.58 WIB. (Hujan) es nya gak besar-besar, perkiraan sebesar kelereng lah Mas,” tambahnya.

Sekadar informasi, Hujan es adalah fenomena cuaca alamiah dan termasuk dalam kejadian cuaca ekstrem. Hujan es terjadi karena adanya awan Cumulonimbus. Pada awan ini terdapat tiga macam partikel yaitu butir air, butir air super dingin, dan partikel es.

Sehingga, hujan lebat yang masih berupa partikel padat dapat terjadi, tergantung dari pembentukan dan pertumbuhan awan Cumulonimbus tersebut.

Fenomena ini dapat ditandai jika terlihat awan berlapis-lapis seperti bunga kol, serta diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepi berwarna abu-abu menjulang tinggi, yang akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam jika diamati.

Dilansir dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fenomena hujan es biasanya disertai kilat, petir dan angin kencang biasanya berdurasi singkat, dan terjadi pada masa pancaroba, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. (ang/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar