Peristiwa

Hengki Ria Setiawan Terpenjara di Rumahnya Sendiri

Hengki masih nyambung saat diajak ngobrol dengan beberapa awak media. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Kebebasan Hengki Ria Setiawan (28) terbelenggu dalam kurun waktu setahun terakhir. Bagaiman tidak, warga Dusun Mingging Desa Grogol Kecamatan Sawoo itu hidup di dalam ruangan berukuran 2 meter × 2 meter yang terbuat dari beton. Dia tidak bisa melihat indahnya mentari terbit maupun tenggelam, lantaran ruangan tersebut hanya ada satu pintu dari besi yang terkunci.

Praktis Hengki seperti orang dipenjara meski berada di rumahnya sendiri. Dalam ruangan itu, hanya ada kasur tipis dan jamban untuk Dia buang hajat. Untuk menerima makan dan minuman, hanya disediakan lubang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 20 centimeter × 10 centimeter. Satu lampu bohlam kecil satu-satunya penerapan di ruang tersebut.

Hengki mengaku Dia dikurung karena lantaran warga lingkungannya resah. Dia, oleh warga dianggap gila dan sering mengamuk serta dianggap membahayakan warga. Akan tetapi Dia tidak merasa melakukan hal tersebut. Dia mengaku hanya berselisih dengan keponakannya. Hengki saat itu menanduk keponakannya hingga jatuh. Perselisihan itu terjadi karena Dia sakit hati dipicu oleh persoalan pribadi di keluarganya.

“Saya tidak mengamuk ke warga, ya hanya kepada keponakan saya, karena permasalahan keluarga. Ketika dimasukkan ke penjara ini tangan saya diikat jadi saya pasrah saja,” kata Hengki saat ditemui beritajatim.com, Rabu (17/2/2021).

Setelah setahun hidup ruangan yang dianggapnya pengap ini, harapan satu-satunya Hengki hanya ingin bebas dari berdinding dan beratap beton tersebut. Jika warga tidak berkenan Dia bebas berada di lingkungan, Hengki bersedia untuk pergi dari desa tersebut.

“Saya ingin keluar dari sini. Kalau memang saya gila, saya mau diobati. Saya pengin hijrah dan bisa bekerja lagi,” kata Hengki yang sebelumnya pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia itu.

Sementara Nurhayati (45), ibunda Hengki merasa sedih jika anaknya terus dikurung seperti itu. Selama di dalam kurungan, Hengki tidak menunjukkan gelagat seperti orang gila. Ngobrol biasa, tidak teriak-teriak.

“Orangtua mana yang tidak sedih melihat anaknya seperti itu. Orang bilang anak saya begini-begini, lha wong selama ini yang ngurus juga saya sendiri,” kata Nurhayati sambil menyeka air mata yang menetes ke pipinya.

Nurhayati menceritakan sepeninggal bapaknya, Hengki kerap melamun. Selain itu ditambah lagi, di tahun 2015, istrinya meninggalkannya dengan membawa anak yang masih berusia sekitar 5 tahun. Usai berselisih dengan keponakannya itu, mulailah warga mengecap dia setres dan gila. Keluarga pun telah berulangkali membawa Hengki berobat ke Trenggalek, Solo dan terakhir di RSJ Lawang Kabupaten Malang. Setelah menjalani perawatan 35 hari, dia dipulangkan karena diklaim sudah sembuh.

“Ya katanya pihak rumah sakit, pikiran Hengki tinggi. Ya mungkin karena ditinggal bapaknya dan istrinya juga menginginkan pisah. Dirawat di rumah sakit sebulan dan dinyatakan sudah sembuh,” pungkasnya. [end/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar