Peristiwa

Kisah Mohammad Hatta (3-Habis)

Hatta Terpesona dengan Skandinavia

Jember (beritajatim.com) – Mohamamd Hatta jatuh cinta dengan konsep koperasi. Tahun 1925, saat masih kuliah, Mohammad Hatta pernah mengunjungi Denmark dan negara-negara Skandinavia untuk mengamati perkembangan koperasi.

“Dalam segi ekonomi dilaksanakan kooperasi sebagai dasar perekonomian rakyat, ditambah dengan kewajiban pemerintah untuk menguasai atau mengawasi cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak,” katanya.

Dalam segi politik, Hatta meyakini sistem perwakilan rakyat dengan musyawarah berdasarkan kepentingan umum. Tapi ia menolak kata ‘mufakat’ yang dipaksakan seperti yang terjadi di Negara totaliter. Mufakat baru terjadi setelah ada musyawarah. Kedaulatan rakyat adalah inti demokrasi yang didukung Hatta. “Indonesia yang adil… akan berlaku apabila pemerintahan negara dari atas sampai ke bawah berdasarkan kedaulautan rakyat,” katanya, dalam pidato di Aceh.

Keyakinan ekonomi politik Hatta tak berhenti pada jargon. Mungkin inilah yang membedakannya dengan Sukarno. Dia lebih detail dan teknis dalam bekerja. Semasa menjadi wakil presiden, Hatta memiliki tiga konsepsi ekonomi alias Hattanomics: penguasaan aset negara, kontrol terhadap perusahaan swasta, dan penumbuhan perekonomian rakyat yang mandiri. Konsepsi demokrasi ekonomi diwujudkan dalam wajah koperasi dengan membentuk Gabungan Koperasi Batik Indonesia.

GKBI berhasil membangun empat pabrik mori, kain bahan batik, di Jawa. Hatta juga mendorong tumbuhnya perusahaan negara, dan salah satunya adalah Semen Gresik. Sayang, kendati mendorong tumbuhnya Semen Gresik, ia justru tak hadir dalam peresmian di tahun 1958, karena sudah tak lagi menjabat wakil presiden.

Ironi terjadi. Hattanomics semasa Hatta berkuasa justru tidak muncul dengan sokongan partai politik yang kuat. Partai politik Orde Lama lebih suka bergumul dengan isu dan jargon politik nasionalisme. Ekonomi politik adalah jalan sunyi Hatta. Sesunyi konsistensi sikapnya dalam menerapkan kesederhanaan yang diajarkan dalam Islam dan sosialisme.

Sesunyi kisahnya yang hanya menerima semacam tunjangan lauk-pauk sebagai pensiunan wakil presiden sebesar seribu rupiah per bulan. Uang pensiunnya tak cukup untuk membayar tagihan telpon. Hatta pun rela jika sambungan telponnya dicabut. Ia menolak tawaran untuk menjadi komisaris perusahaan Belanda.

Bagaimana dengan hari ini? Harapan Hatta untuk menjadikan partai sebagai kekuatan yang mendukung ideologi ekonomi politik yang berpihak kepada rakyat agaknya masih jauh panggang dari api. Berbeda dengan di Eropa dan Amerika Serikat, di mana partai politik bertarung menggunakan platform ekonomi dan menjalankannya saat berkuasa, pertarungan politik di Indonesia baru sebatas saling kunci dan berbagi kuasa. Itulah kenapa badan usaha milik negara tidak pernah lepas dari tatapan mata curiga sebagai bagian dari pembagian kue kekuasaan.

Apa boleh buat. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar