Peristiwa

Hari Ke 10 Pasca Gempa di Malang, Kondisi Warga Masih Memprihatinkan

Malang (beritajatim.com) – Foto diatas adalah hunian sementara atau Huntara yang dibuat oleh tim relawan di Posko Penanganan Pasca Gempa Bumi di Dusun Krajan, Desa Majang Tengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Huntara ini, dibuat cukup sederhana.

Bisa menampung 5 hingga 10 orang lebih. Terbuat dari kayu, bambu dan terpal bantuan, jika di hitung secara ekonomis, membuat satu Huntara ini hanya butuh alokasi dana Rp 500 ribu saja. Huntara ini adalah satu contoh rumah darurat sederhana yang dibuat tim relawan.

Pengendali Posko Relawan Dusun Krajan, Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Suliyono menjelaskan, bahwa sebenarnya saat ini, yang ia targetkan adalah perbaikan pada rumah yang rusak ringan.

Selain itu, pembangunan tenda darurat yang rencananya akan digunakan untuk hunian sementara (huntara), juga masih hanya 2 unit yang sudah didirikan. Hal itu juga disebabkan karena sejumlah kendala.

“Huntara ini kami yang inisiasi. Kalau di total untuk membuat Huntara atau hunian sementara dari terpal ini harganya Rp 500 ribu saja. Namun kami tidak bisa membuat banyak karena kebutuhan untuk kayunya kami tidak punya. Butuh kayu banyak untuk membuat Huntara ini,” tegas Suliyono, Senin (19/4/2021).

Suliyono menuturkan, kurangnya material bangunan sangat dirasakan bagi relawan disejumlah Posko. Serta, minimnya personel yang bertugas di lapangan, menjadi tugas penanganan pasca gempa bumi sedikit terkendala.

“Kalau ada kontinuitas personel, sebenarnya hingga hari ini targetnya masih pada perbaikan rumah yang rusak ringan. Namun, karena sejumlah personel dan relawan sudah ada yang ditarik, maka terpaksa harus tertahan dulu. Karena memang mereka (personel dan relawan) ada tugas dan kewajiban lain yang harus mereka tuntaskan,” beber Suliyono.

Menyikapi hal tersebut, Suliyono bersama tim nya sudah berupaya memberikan dorongan. Contohnya seperti memberikan beberapa material seperti semen untuk rumah yang mengalami rusak ringan.

“Sebenarnya dari kami sudah ada dorongan. Misalnya rumah yang rusak ringan kami kirim dua sak semen, rumah yang rusaknya sedikit lebih, kami beri tiga sak semen. Tapi ya karena tenaganya minim, kami tidak mau ambil resiko. Artinya, meskipun material sudah ada tapi tidak mungkin dikerjakan asal-asalan. Malah menambah bahaya,” tegas Suliyono. (yog/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar