Peristiwa

Hakim Tinggi Perberat Hukuman Pendeta Hany Layantara

Surabaya (beritajatim.com) – Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Jatim memperberat hukuman Hany Layantara menjadi 11 tahun pada Pendeta Happy Family Center (HFC), terdakwa kasus pencabulan terhadap anak.

Sebelumnya oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Hany dijatuhi hukuman pidana 10 tahun penjara.

Putusan tingkat banding ini bisa dilihat pada website Mahkamah Agung Republik Indonesia. Perkara dengan nomor 863/Pid.Sus/2020/PN.Sby, diputuskan oleh tiga majelis hakim yang diketuai oleh Dr. Siswandriyono dan dua hakim anggota, Permadi Widhiyanto, Prim Fahrur Rozi.

Dalam putusan itu, hakim menyatakan menerima permintaan banding dari Dhani Ahmad Prasetyo dan Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Surabaya tersebut, serta mengubah putusan Pengadilan Negeri Surabaya tanggal 21 September 2020 Nomor 863/Pid.Sus/2020/PN.Sby.

Kuasa hukum keluarga korban Eden Bethania Thenu

“Menyatakan terdakwa Hany Layantara terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul yang ada hubungannya sedemikan rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut,” ujar hakim dalam petikan putusannya.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Hany Layantara dengan pidana penjara selama 11 tahun, denda Rp 100 juta, apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan penjara selama 6 bulan,” bunyi putusan selanjutnya.

Terpisah, Eden Bethania Thenu selaku juru bicara dari pihak korban atas putusan tersebut mengatakan, kasus ini bisa jadi pembelajaran buat semua predator anak.

“Apa pun alasannya, undang-undang di negara kita melindungi anak-anak. Tidak ada alasan suka sama suka. Apalagi terdakwa HL adalah panutan untuk moralitas. Pemberatan hukuman tersebut sebagai bukti jika HL sebagai tokoh agama dianggap sudah merusak masa depan anak (IW). Itu adalah kejahatan yang luar biasa,” ucap Eden.

Untuk diketahui,kasus ini mencuat setelah korban melalui juru bicara keluarga melakukan pelaporan ke SPKT Polda Jatim dengan nomor LPB/ 155/ II/ 2020/ UM/ SPKT, pada Rabu 20 Februari 2020.

Berdasarkan keterangan, korban mengaku telah dicabuli selama 17 tahun. terhitung sejak usianya 9 tahun hingga saat ini 26 tahun. Namun, dari hasil pengembangan terakhir pencabulan terjadi dalam rentang waktu 6 tahun, ketika usia korban masih 12 tahun hingga 18 tahun.

Setelah pelaporan itu, kepolisian langsung melakukan penyelidikan dan menetapkan Hanny Layantara sebagai tersangka karena dalam hasil gelar perkara ada kesesuaian antara keterangan saksi, korban, tersangka dan barang bukti yang ditemukan.

Akhirnya, pendeta ditangkap oleh penyidik pada 7 Maret 2020 karena ada upaya kabur ke luar negeri dengan alasan ada undangan untuk memberikan ceramah. [uci/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar