Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Gus Yahya dan Tuntutan Peran Global NU

Arief Afandi dan KH Mustofa Bisri, paman Gus Yahya, pimpinan Pondok Raudhlatut Tholibin Kabupaten Rembang, Jateng. [Foto: Arief for beritajatim.com]

Surabaya (beritajatim.com) – Peran strategis ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan tak hanya di level nasional. Ormas kaum Islam Tradisional ini meski memiliki peran global yang lebih besar dan lebih kuat.

Karena itu, NU membutuhkan kepemimpinan puncak yang memahami secara paripurna mapping global dalam perspektif perkembangan aliran teologi, geopolitik, ekonomi, sosial budaya, dan lainnya.

Hal itu dikatakan aktivis dan profesional NU, Arief Afandi, di Surabaya, Rabu (13/10/2021) malam. “Dalam konteks demikian, tampilnya Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) sangat mendukung sekali dan memiliki kapasitas untuk memainkan peran tersebut (global) dengan baik baik,” kata Arief.

Ada sejumlah nama yang dijagokan sebagai calon ketua umum PBNU periode 2021-2026. Nama Gus Yahya—panggilan akrab Yahya Cholil Staquf—satu di antaranya, selain Ketua Umum Dr KH Said Aqil Siradj, dan lainnya.

Gus Yahya yang pernah lama nyantri di Pondok Al Munawwir Yogyakarta dan berkuliah di Fisipol UGM, dikenal sebagai aktivis yang lama berkecimpung di NU. “Gus Yahya itu dikader dan dididik langsung Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid),” tegas Arief yang pernah menjabat Wakil Wali Kota Surabaya dan Pemimpin Redaksi Harian Jawa Pos Surabaya.

Relasi erat Gus Dur dan Gus Yahya berlangsung, terutama ketika yang bersangkutan dipercaya sebagai salah satu juru bicara Presiden Gus Dur (1999-2001).

“Gus Yahya adalah sosok kiai muda didikan Gus Dur. Dia memiliki sumber legitimasi yang lengkap. Dzuriyah kiai besar, yakni cucu KH Bisri Mustofa dan putra KH Cholil Bisri, memimpin pondok pesantren, jebolan UGM Yogyakarta, kemampuan Bahasa Inggris dan Bahasa Arabnya bagus, pintar baca dan memahami isi kitab kuning, dan telah punya jaringan internasional yang kuat, baik di Amerika Serikat maupun Eropa,” tegas Arief.

Kiprah dan peran strategis NU di level internasional jadi ekspektasi banyak kalangan di Indonesia dan mancanegara. Sebagai ormas Islam bergaris moderat dan mengembangkan nilai-nilai Rahmah kepada seluruh alam, NU diharapkan menyentuh masyarakat internasional dengan nilai-nilai moderasi Islam yang terbukti menghasilkan perdamaian dan kebersamaan di tengah masyarakat Indonesia yang plural.

“Peran internasional NU itu sangat mungkin dijalankan dengan baik oleh Gus Yahya, mengingat kapasitas, akseptabilitas, pengalaman, dan networking yang dimiliki,” ungkap Arief.

Sebagai tokoh Islam dari Indonesia yang bergaris moderat, Gus Yahya memiliki jaringan komunikasi dan relasi kuat dengan banyak pemimpin dunia. Arief mengutarakan, Gus Yahya memiliki relasi baik dengan Mike Pence, mantan Wapres AS era Presiden Donald Trump; mantan Menteri Luar AS Mike Pompeo; Presiden dan Menteri Luar Negeri Uni Eropa, serta banyak tokoh dunia lainnya.

Yang penting diingat, menurut Arief, ormas Islam NU lahir sebagai respon peristiwa global. Apa itu? Respon atas gerakan Wahabisme di Arab Saudi di awal abad XX, yang ditandai dengan naiknya ke tampuk kekuasaan politik keluarga Saud di struktur puncak kekuasaan Kerajaan Arab Saudi.

Dalam konteks ini, terjadi relasi kuat antara keluarga Saud yang bergerak di lini politik praktis dengan Muhammad Bin Abdul Wahab yang memperkenalkan nilai-nilai aliran Wahabisme, yang mengedepankan pada purifikasi dan implementasi nilai-nilai Islam secara tekstual.

“Dengan demikian, pada dasarnya NU sudah mengglobal sejak lahir. Karena itu, saatnya NU kembali memainkan peran global ketika perdamaian dunia terancam oleh pandangan-pandangan populisme di seluruh dunia,” ingatnya.

Dalam perspektif kapasitas personal, legitimasi sosial dan teologis, serta networking internasional, Gus Yahya, menurut Arief, mempunyai peluang besar untuk menjadi agen pengekspor gagasan-gagasan keagamaan NU ke seluruh dunia. Sehingga Gus Yahya tidak hanya mampu menjadi duta bagi NU, tapi sekaligus duta Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia dengan Islam Rahmatan Lil Alamin.

“Sebagai tokoh NU (Katib Aam PBNU), Gus Yahya sudah disegani komunitas internasional, karena gagasan-gagasan cerdasnya tentang Islam Rahmah. Gus Yahya menjadi aset NU yang tidak ada duanya setelah Gus Dur. Secara pribadi, saya kenal sejak mahasiswa. Gus Yahya adalah pemikir hebat dan ingin pemikiran-pemikirannya diikuti dunia,” tegas Arief.

Rencananya, muktamar ke-34 NU dihelat di Provinsi Lampung pada akhir Desember 2021. Satu agenda penting di antara banyak agenda muktamar adalah pemilihan rais aam dan ketua umum PBNU. Mekanisme pemilihan rais aam dilakukan dengan pola AHWA, sedangkan ketua umum dengan sistem pemilihan langsung one man one vote. Pemilik suara adalah pengurus tingkat wilayah (Provinsi) dan cabang (Kabupaten/Kota).

Di tingkat Jatim sendiri telah diputuskan mendukung KH Miftakhul Akhyar sebagai kandidat rais aam dan Gus Yahya sebagai calon ketua umum PBNU. Mengingat aspek historis, kultural, dan sosiologis di mana Jatim, khususnya Kota Surabaya, adalah tempat lahirnya NU pada 31 Januari 1926, biasanya aspirasi dan ekspektasi calon yang diusulkan dan diperjuangkan NU Jatim tersebut mendapat dukungan dari mayoritas muktamirin dan berhasil tampil di posisi puncak kepemimpinan NU, baik di ranah syuriah maupun tanfidziyah. [air/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar