Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Gus Ubaid Tanggapi Faisal Basri Soal TKA China

Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua PP LAZISNU, Ubaidillah Amin (Gus Ubaid) menanggapi tuduhan ekonom Faisal Basri mengenai data jumlah data TKA China yang tidak berdasar.

Faisal Basri sebelumnya mengungkapkan ribuan tenaga kerja asing atau TKA China masuk ke Indonesia untuk proyek nikel di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Jumlah tenaga asing itu lebih besar ketimbang yang dilaporkan oleh pemerintah sebesar 3.500 orang.

“Saya juga mengingatkan, sebagai tokoh akademik, setiap argumentasi Pak Faisal Basri semestinya harus berdasarkan data yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Pak Faisal Basri itu akamedis gaek, seharusnya dia sadar dan tidak menutupi fakta dengan kebohongan. Jumlah TKA China telah sesuai dengan UU 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara,” kata Gus Ubaid, Jumat (15/10/2021).

Gus Ubaid yang merupakan Pengasuh Ponpes Annuriyyah Kaliwining Jember menjelaskan, berdasarkan data PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sejak tahun 2014-2020, rasio TKI terhadap TKA sebesar 1,79 persen, 1,76 persen, 3,94 persen, 6,04 persen, 8,05 persen, 10,44 persen, 10,20 persen dan di tahun 2021 menunjukkan penurunan 9,20 persen.

“Pada tahun 2022 diprediksi turun menjadi 7,30 persen dan di tahun 2023 diprediksi mengalami penurunan lagi menjadi 6,04 persen. Hal ini berarti di tahun 2021 dan ke depannya, jumlah TKA China sudah sesuai dengan ketentuan yang ada, yaitu sebesar 6,04 persen. Artinya, setiap 6 TKA berkewajiban mendampingi 100 tenaga kerja Indonesia. Artinya, hanya sekitar 6 persen saja,” tegasnya.

Berdasarkan data yang ada, di tahun 2020 jumlah TKI yang terserap sebanyak 62.957 orang, sedangkan TKA China hanya sebanyak 6.426 orang atau sekitar 10,20 persen. Dan, ini diprediksi di tahun-tahun berikutnya pada 2021, 2022, 2023 akan semakin banyak TKI yang akan terserap yaitu sebanyak 11,1-16 persen.

“Kalau dibandingkan dengan TKA yang ada hanya sekitar 6,04-7,30 persen. Dari sisi penerimaan devisa, negara juga mendapatkan devisa yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, di tahun 2020 saja menunjukkan angka 10.201 juta dollar AS. Untuk jumlah ekspor pun juga dari tahun ke tahun semakin menunjukkan trend peningkatan yang sangat berarti. Di tahun 2020 saja menunjukkan sebesar 6.387 juta dollar AS. Hal ini otomatis akan menambah devisa negara kita,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Gus Ubaid, juga ada tambahan penerimaan negara dari sektor pajak yang berasal dari penerimaan pajak dan royalti yang menunjukan trend positif. Di tahun 2020 saja penerimaan dari pajak dan royalti sudah berkontribusi sebesar Rp 5.377.098 juta, dan ada kecenderungan akan terus makin meningkat.

“Data-data IMIP yang akurat ini menunjukkan bahwa terdapat trend peningkatan penerimaan devisa negara, yang berasal dari adanya nilai investasi dan nilai ekspor, serta ditunjang dari adanya penambahan penerimaan yang berasal dari kontribusi penerimaan pajak dan royalti,” tukasnya.

Sekadar diketahui, ekonom senior Faisal Basri mengungkap segala hal yang selama ini dinilainya tak banyak diketahui publik tentang tenaga kerja asing (TKA) China yang masuk Indonesia.

Kedatangan TKA China ke Indonesia kerap mengundang kritik publik, salah satunya karena kedatangan mereka di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia.

Selain itu, banyak pula yang menilai kedatangan TKA China ke Indonesia akan membuat potensi tenaga kerja di Indonesia sulit terserap. Meski begitu, pemerintah berkali-kali mengklaim bahwa TKA China yang didatangkan merupakan tenaga ahli, bukan pekerja biasa.

Klaim itu ditampik Faisal Basri. Ekonom lulusan Universitas Indonesia (UI) itu kemudian mengungkap rata-rata gaji TKA China di Indonesia yang dari nominalnya bukan gaji seorang tenaga ahli.

“Apakah mereka tenaga ahli? Ya tidak. Gaji mereka itu Rp 17 juta sampai Rp 54 juta,” sebut Faisal Basri dalam diskusi virtual bertajuk ‘Waspada Kerugian Negara dalam Investasi Pertambangan’ yang disiarkan kanal Youtube CORE Indonesia pada 12 Oktober 2021. “Jabatan mereka koki, pengemudi ekskavator, truk derek, forklift. Manajer gudang, ahli statistik, montir, operator”. [tok/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar