Peristiwa

Gus Afton, Mantan Anggota DPRD Jember Meninggal Dunia

Jember (beritajatim.com) – Afton Ilman Huda alias Gus Afton, mantan anggota DPRD Jember, Jawa Timur, dan juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Fatah di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, meninggal dunia, Minggu (8/11/2020) malam.

Afton lahir di Jember, 2 November 1964, dan cucu Kiai Dzafir Salam, Rois Syuriah NU Jember (1979-1987).

Sebelum meninggal, ia sempat mengeluh capek sepulang dari Kabupaten Banyuwangi sekitar pukul delapan malam itu. Saat dipijat sang istri, ia tak sadarkan diri dan kemudian wafat. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga, Senin (9/11/2020).

Sabtu (7/11/2020), Afton sempat menghadiri acara maulud nabi di rumah MZA Djalal, Bupati Jember 2005-2015. Tak tampak tanda-tanda sakit saat itu. Ia berbincang akrab dengan tuan rumah, calon bupati Hendy Siswanto, mantan wakil bupati Kusen Andalas, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Madini Farouq, dan beberapa tokoh lainnya.

Moch. Eksan, pendiri Eksan Institute, menyebut Afton ‘Dewan Syura IPNU (Ikatan Pelajar NU) yang punya otoritas intelektual, spiritual, dan moral dalam pangkaderan badan otonom Nahdlatul Ulama itu. “Dia menjadi ‘guru kader’ bagi tokoh aktivis. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wakil Bupati Lamongan Kartika Hidayati, dan banyak tokoh lain ikut digembleng oleh Gus Afton di IPNU-IPPNU,” katanya.

“Waktu aktif menjadi anggota Dewan, ia aktif melibatkan kader-kader muda NU dalam pembahasan isu strategis daerah. Ini tentu tradisi yang sangat baik untuk mengembangkan paradigma pembangunan partisipatoris, inklusif dalam bahtsul masailil qanuni (diskusi masalah peraturan) dan batsul masailil mizaniyatid daulah (diskusi masalah anggaran negara),” kata Eksan.

Afton juga sejarawan NU dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Jember. Ia pernah menulis buku Thariqah Sang Kyai  pada 2005. Saat menjadi Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama Jember, ia getol menghadang radikalisme di kalangan anak muda.

Afton ikut membungun dialog antarumat untuk menghindari kesalahpahaman yang Imemicu tindakan intoleran dan diskriminatif terhadap umat berbeda agama atau keyakinan. “Ia anak ideologi Gus Dur yang setia dan tak pernah lelah memajukan kerukunan umat dan melindungi kelompok minoritas di tanah air,” puji Eksan. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar