Peristiwa

Mengenang Bung Karno (3)

Gotong Royong, Rangkuman Pancasila

Foto: Ilustrasi

Jember (beritajatim.com) – Tidak bisa tidak, Pancasila adalah karya jenius seorang Soekarno. Lima sila yang menunjukkan bagaimana Soekarno memahami benar bagaimana dunia seharusnya dipandang: warna-warni, kompleks, dan saling terkait.

Sila pertama, menunjukkan elemen agama dan relijiusitas dalam kehidupan berbangsa. Sila kedua adalah elemen humanisme, kemanusiaan yang melintasi batas dan demarkasi sosial. Sila ketiga jelas sebuah elemen kebangsaan. Sila keempat, tak dapat disangkal, merupakan elemen demokrasi. Sila kelima jelas sebuah elemen sosialisme.

Lima elemen. Lima narasi besar. Lima narasi kanonik di dunia. Dan, Soekarno bisa merangkumnya sebagai dasar sebuah bangsa. Luar biasa.

Pancasila menjadi tema pidato Soekarno di hadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, 1 Juni 1945. Melalui Pancasila, ia ingin menunjukkan bahwa Indonesia adalah satu kesatuan tak terpisahkan.

Indonesia melintasi sekat-sekat, batasan-batasan. Dengan mengutip Ernest Renan, Soekarno mengatakan bahwa syarat bangsa adalah adanya kehendak untuk bersatu. Pancasila adalah itikad itu.

Soekarno menawarkan Pancasila sebagai dasar Negara. “Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan…Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima pula bilangannya,” katanya.

Bahkan, Soekarno mengusulkan agar lima sila itu diperas menjadi tiga, jika memang lebih disukai demikian: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan ketuhanan. Namun, jika ada menyukai hanya satu sila sebagai dasar, ia mengusulkan satu kata untuk merangkum semua sila tersebut: gotong-royong.

Presiden Soekarno (AFP)

“Gotong-royong adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari ‘kekeluargaan’… menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan… Prinsip-gotong royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia,” katanya. (wir/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar