Peristiwa

Genjot Becak, Bupati Jember Hendy: Napas Tinggal Seperempat, Wabup: Ini Nostalgia

Jember (beritajatim.com) – Bagaimana rasanya pejabat menggenjot becak memutari alun-alun Kabupaten Jember, Jawa Timur, sepanjang kurang lebih satu kilometer? Tanyakan kepada Bupati Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman.

Mereka bikin kaget sejumlah aparatur sipil negara dan panitia penyelenggara peluncuran program angkutan wisata, saat memutuskan untuk menggenjot sendiri becak memutari alun-alun, Rabu (15/9/2021). Sebelumnya, panitia mengagendakan Hendy dan Firjaun menumpang mobil angkutan klething kuning atau angkutan kota.

Hasti Utami, sang penggagas acara, menyetujui permintaan Handy. Semula ia mengira, Hendy dan Firjaun bakal jadi penumpang yang duduk manis sambil melambaikan tangan kepada warga saat berkeliling alun-alun. Dia keliru. Duet pemimpin Jember itu masing-masing malah memilih jadi penggenjot becak dan dua abang becak berganti peran menjadi penumpang.

“Bukan kami tidak mau naik lin (angkutan kota), tapi kami memilih alat transportasi yang paling berat di situ. Ternyata berat. Ampun. Kita genjot jarak tidak sampai seratus meter, napas saya kayaknya tinggal seperempat,” kata Hendy kepada beritajatim.com, usai acara.

Hendy membayangkan bagaimana beratnya para tukang becak saat harus menempuh medan menanjak, seperti di Jembatan Semanggi. “Itu kan menanjak, becak digenjot kayak begitu, pengemudinya mesti turun. Betapa beratnya. Hati saya di tukang becak itu. Bagaimana kalau saya jadi tukang becaknya. Sementara keluarga menunggu di rumah untuk mendapatkan hasil. Jangankan ada penumpangnya, tidak ada penumpangnya saja kalau melewati Semanggi tetap ngos-ngosan,” katanya.

Sementara Firjaun menyatakan menggenjot becak bukan pengalaman pertamanya. “Memang kalau kita tidak merasakan secara langsung, ini empati maupun secara kejiwaan kurang bisa meresapi. Dulu saya juga pernah jualan es, jualan gorengan, mbecak (mengemudikan becak) waktu masih SMA di Kabupaten Jombang, saya anggap ini nostalgia,” katanya.

Menurut Firjaun, saat itu di depan Pondok Pesantren Tebuireng ada seorang tua pengemudi becak. “Jam tiga, jam empat, dia sudah berhenti mbecak. Saya sewa. Saya mbecak beneran, saya bawa ke (kota) Jombang. Saya tidak tahu arah, tidak tahu alamat. Genjot saja. Kalau sudah sampai perempatan, saya asal belok saja. Kalau keliru arah, orang pasti protes,” katanya.

Firjaun pernah diomeli penumpang saat itu. “Jadi kami memang mencoba mendalami bagaimana kehidupan tukang becak,” katanya. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar