Peristiwa

Genjot Becak Bareng Gus Firjaun, Bupati Jember: Ayo Balapan!

Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman kompak menggenjot pedal becak, dalam acara pembukaan program angkutan wisata, di depan Pendapa Wahyawibawagraha, Jalan Wijaya Kusuma, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (15/9/2021).

Angkutan wisata ini menggunakan becak, ojek, angkutan kota, dan angkutan desa. Usai berpidato dan mengibarkan bendera tanda diawalinya kegiatan itu, Hendy dan Firjaun sebenarnya diagendakan naik mobil angkutan kota atau klething kuning memutari alun-alun.

Namun mendadak Hendy berbisik ke Hasti Utami, pegiat wisata sosial yang menggagas program angkutan wisata itu, yang berada di sebelahnya. “Mbak, aku tak numpak becak ae yo (saya naik becak saja ya)?” katanya.

Hasti tercengang. “Hah? Becak, Pak? Oh, oke,” katanya. Keinginan Hendy ini diamini oleh Gus Firjaun, sapaan akrab wabup.

Hasti memberitahu Harsono, pegawai bagian protokol. Semula ia mengira, Hendy dan Firjaun bakal jadi penumpang yang duduk manis sambil melambaikan tangan kepada warga. Dia keliru. Duet pemimpin Jember itu masing-masing malah memilih jadi penggenjot becak dan dua abang becak berganti peran menjadi penumpang.

Dua tukang becak itu kaget bukan kepalang. Salah satunya sempat menolak saat Gus Firjaun yang juga pengasuh Pondok Pesantren As-shiddiqi Putra berkeras ingin berada di belakang kemudi. Dengan gemetar, Si Tukang Becak memohon agar Firjaun tetap menjadi penumpang.

“Enten Gus, tak bengal kula, Gus,” katanya dalam bahasa Madura. Jangan, Gus, saya tidak berani.

Si Tukang Becak takut kualat. Namun karena Firjaun berkeras, akhirnya Si Tukang Becak dengan ragu-ragu duduk di bagian depan becak, sambil berkata “cangkolang, Gus”. Dalam bahasa Madura, cangkolang diucapkan pertama kali untuk meminta izin karena telah melakukan perbuatan yang melanggar etika sopan santun dalam pergaulan dengan orang yang dituakan atau orang yang semestinya dihormati.

Aksi Hendy-Firjaun ini membuat kelabakan protokol. Mereka akhirnya mengiringi keduanya mengelilingi alun-alun sambil berlari di samping becak. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jember Bobby Ari Sandi dan Suharsono terlihat ngos-ngosan berlari kecil.

Mendekati pendapa kembali, Hendy mendadak iseng berkata kepada Firjaun dan para pengawalnya. “Ayo, balapan,” katanya sembari mempercepat kayuhan becaknya.

Usai acara, Hendy mengatakan, ingin merasakan beratnya mengayuh becak. “Jadi bukan kami tidak mau naik lin (angkutan kota), tapi kami memilih alat transportasi yang paling berat di situ,” katanya kepada beritajatim.com.

“Ternyata berat. Ampun. Kita genjot jarak tidak sampai seratus meter, napas saya kayaknya tinggal seperempat,” kata Hendy.

Hendy membayangkan bagaimana beratnya para tukang becak saat harus menempuh medan menanjak, seperti di Jembatan Semanggi. “Itu kan menanjak, becak digenjot kayak begitu, pengemudinya mesti turun. Betapa beratnya. Hati saya di tukang becak itu. Bagaimana kalau saya jadi tukang becaknya. Sementara keluarga menunggu di rumah untuk mendapatkan hasil. Jangankan ada penumpangnya, tidak ada penumpangnya saja kalau melewati Semanggi tetap ngos-ngosan,” katanya.

“Memang kalau kita tidak merasakan secara langsung, ini empati maupun secara kejiwaan kurang bisa meresapi. Dulu saya juga pernah jualan es, jualan gorengan, mbecak (mengemudikan becak) waktu masih SMA di Kabupaten Jombang, saya anggap ini nostalgia,” kata Firjaun. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar