Peristiwa

Forkomasbaja Tagih PR di Proyek J-TB

Bojonegoro (beritajatim.com) – Forum Komunikasi Masyarakat Banyuurip Jambaran (Forkomasbaja) melakukan aksi menagih beberapa masalah yang saat ini dinilai menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kontraktor pelaksana Engineering Procuremen and Construction Gas Processing Facility (EPC GPF) Jambaran – Tiung Biru (JTB), PT Rekayasa Industri (Rekind) – JGC.

Beberapa temuan yang perlu segera diselesaikan menurut massa aksi diantaranya tentang banyaknya para pekerja yang diindikasi telah terjangkit Covid-19. Terlebih, menurut mereka, ada empat Warga Desa Bandung Rejo Kecamatan Ngasem atau warga ring satu Sumber Gas Jambaran Tiung Biru yang positif untuk segera disikapi dengan bijak agar tidak meresahkan warga sekitar.

“Jangan sampai masyarakat terdampak hanya jadi penonton. Jangan sampai saat Wabah Corona ini istilahnya ‘Roti dinikmati oleh orang luar, sedang orang lokal kebagian corona’ menjadi  topik ditengah-tengah Kontruksi EPC-GPF Jambaran Tiung Biru,” ujar Koordinator Lapangan Purnomo, Selasa (28/7/2020).

Selain menyikapi klaster Covid-19 di lapangan J-TB, beberapa hal yang menjadi temuan mereka adalah masih banyaknya tagihan vendor lokal yang terlambat bayar, banyak BUMN yang menjadi subcon Rekind, padahal pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh kontraktor lokal. Adanya fakta di lapangan, bahwa banyak subcon rekind yang tidak punya modal dan sangat tergantung pada back to back pembayaran dari Rekind

“Banyak karyawan Rekind yang baru Kolusi/titipan dan asal comot,” ujarnya.

Untuk itu, massa menuntut, kepada kontraktor pelaksana Rekind harus melaksanakan swab test ke seluruh pekerja J-BT. Rekind harus bertanggung atas terlambatnya pembayaran tagihan vendor lokal. Rekind harus menerapkan intruksi Menteri BUMN, bahwa proyek senilai Rp 14 miliar ke bawah harus diserahkan ke UMKM dan Kontraktor Lokal

Manajemen Rekind di JTB harus dirombak total karena disinyalir banyak permainan dan titipan dan PT Rekind harus betul-betul dan memberdayakan serta memperhatikan pengembangan ekonomi lokal dan tidak dimonopoli oleh kepentingan personal oknum Rekind

Sementara diketahui, Lembaga Masyarakat atau LSM Forkomasbaja merupakan tertua di daerah penghasil Migas terbesar di Indonesia yaitu Sumur Banyuurip Blok Cepu yang saat ini sudah berproduksi dan juga Sumber Gas Jambaran-Tiung Biru yang saat ini masih proses pengerjaan Kontruksi.

Lembaga tersebut didirikan pada tahun 2002 silam oleh para tokoh masyarakat di 15 Desa yang dulu ikut Kecamatan Ngasem dan Kalitidu, Keberadaan Lembaga ini adalah sebagai wadah untuk menampung dan menyuarakan aspirasi masyarakat terkait dengan kegiatan Migas yang bertujuan untuk kemaslahatan bersama.

Menanggapi aksi yang dilakukan oleh Forkomasbaja, dilanjutkan dengan sistem mediasi di Mapolsek Gayam. Site Manager PT Rekind, Zainal Arifin, mengatakan, saat ini pihaknya telah mengusahakan untuk pembayaran dana talangan kepada kontraktor lokal yang belum terbayar.

“Saat ini Manajemen Rekind sedang mengusahakan dana yang diperlukan kontraktor lokal sesuai pengajuan surat (dana talangan),” jelasnya.

Dalam mediasi itu, pihak kontraktor juga menjelaskan, sebelumnya telah melakukan rapid tes kepada sejumlah pekerja. Termasuk, menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan imbauan pemerintah untuk memutus penyebaran Covid-19.

Sekadar diketahui, mediasi dihadiri oleh Site Manager Rekind Zainal Arifin, Chief Comdev Rekind Andriansyah KP, Security Coordinator Rekind Erik Kristiyan, Tokoh Masyarakat Khumaidi, Kasat Intel Polres Bojonegoro AKP Beni Ulang Setyawan, Anggota Polsek Gayam, dan Perwakilan Forkomas-Baja Edi Puryanto. [lus/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar