Peristiwa

Fenomena Laut Suramadu Bisa Saja Bukan Halocline

Surabaya (beritajatim.com) – Fenomena perubahan warna air laut di bawah jembatan Suramadu mengundang banyak rasa penasaran. Pasalnya kejadian berbedanya warna air laut yang membentuk batas seakan tidak mau bercampur itu merupakan kejadian yang bisa dibilang cukup langka.

Ada yang mengatakan bahwa kejadian tersebut merupakan Fenomena Halocline atau yang fenomena yang terjadi karena perbedaan Salinitas atau kadar garam yang berbeda ketika ada aliran muara sungai di daerah sekitar itu. Memang gradasi warna itu terjadi karena perbedaan densitas (massa jenis air) air laut.

Namun, Prof. Amin Alamsyah selaku Ahli Kelautan UNAIR mengatakan bahwa fenomena halocline seharusnya sangat minim terjadi ketika curah hujan tinggi.

“Mestinya dalam kondisi yang curah hujan tinggi maka fenomena halocline kemungkinan kecil terjadi sebab kondisi salinitas air laut dan air tawar dari muara tercampur dan menghasilkan perbedaan salinitas yang tidak begitu ekstrem,” ujar Prof. Alam.

Namun Prof Alam tidak bisa memastikan lebih lanjut karena belum ada Tim dari UNAIR yang terjun langsung ke lapangan. Ia pun kemudian memberikan beberapa kemungkinan yang bisa menyebabkan berubahnya warna air laut selain Halocline, yakni; Perubahan warna laut biasanya diakibatkan karena blooming plankton di laut, atau bisa juga diakibatkan perbedaan kedalaman topografi dasar laut. Atau bisa juga paparan bahan pencemar yang terlarut. Dan bisa juga suspensi lumpur yang teraduk dan kemudian membuat stratifikasi warna laut berbeda.

“Belum bisa memastikan secara langsung. Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih detail terkait munculnya perubahan warna air laut di Suramadu. Harus dilihat langsung ke lapangan,” pungkas Prof. Amin sekaligus Warek III UNAIR ini kepada beritajatim.com, Rabu (20/3/2019). [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar