Peristiwa

Fenomena Alam Mengkhawatirkan, DAS Bengawan Solo Wajib Waspada

DAS Bengawan Solo

Malang(beritajatim.com) – Profesor Bidang Ilmu Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air Universitas Brawijaya, Malang Prof. Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono, MT., IPU mengingatkan, kota atau kabupaten di Jawa Timur yang dilalui Sungai Bengawan Solo harus menyiapkan pola drainase yang baik untuk mengantisipasi banjir.

“Saya kira kota-kota yang dilalui Bengawan Solo harus mempunyai pola ketika air sungainya tinggi melakukan sistem buka pintu. Jangan sampai airnya mengalir ke daratan saya kira itu harus dikembangkan disetiap kota yang dilalui Bengawan Solo. Karena bendungannya (Wonogiri) cuma satu sehingga airnya sulit dikontrol kiriman dari hulu itu,” kata Pitojo, Jumat, (3/1/2019).

Pitojo mengatakan perlu dikembangan sebuah sistem dimana air sungai yang masuk ke kota atau pemukiman ketika debit airnya meninggi mampu ditahan oleh pohon-pohon. Kemudian ketika sungai sudah surut, air itu dipompa menuju sungai untuk menanggulangi banjir.

“Untuk saat ini Bendungan Wonogiri masih berfungsi untuk pengendali banjir karena kondisi tampungannya masih ada sedikit ruang yang cukup untuk antisipasi sampai sekitar 2 hari bila curah hujan tinggi,” ujar Pitojo.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya itu mengungkapkan secara umum kondisi Jawa Timur masih aman dari ancaman banjir. Namun, bila inflow air di Bendungan Wonogiri sudah mencapai batas muka air normal maka semua warga yang ada di DAS Bengawan Solo harus waspada.

“Saya kira kondisinya masih aman, Jawa Timur masih aman secara perkembangan kondisi hujan dalam 2 atau 3 minggu kedepan se-ekstrem apa. Jadi kita pantau juga elevasi air waduk yang ada di Wonogiri seperti apa. Kalau itu sudah sampai muka air normal maka kita harus herhati-hati terutama wilayah hilir ada potensi pengendalian banjir,” papar Pitojo.

Selain itu, Pitojo mengatakan fenomena alam sudah semakin mengkhawatirkan. Dia mengungkapkan bendungan itu dirancang untuk usia 100 tahun kedepan. Ketika bendungan itu berfungsi selama batas waktu perancangan pembangunan seharusnya daerah aliran sungai mulai daei resapan tanahnya, lahan, hutan, harusnya bisa dipertahankan atau tidak berubah secara drastis.

“Atau perencana dan konsultan yang desain bendungan harus memikirkan tata kelola seperti apa sehingga harus bisa diantisipasi. Karena ketika bicara bendungan kita bicara inflow atau banjir yang mengisi waduk. Kemudian tampunganya mengendalikan sehingga harus dikendalikan seimbang antara yang masuk dan keluar kalau tidak imbang yang keluar banyak yang masuk sedikit waduknya akan kering kalau sebaliknya waduknya akan penuh,” kata Pitojo.

“Untuk itu semua harus diantusipasi, secara periodik harus dipantau itu bicara debit belum bicara rusaknya hutan akibat pendangkalan waduk. Sendimennya masuk sehingga air di waduk itu berkurang atau bertambah,” tandasnya. (luc/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar