Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Fakta Baru, Sopir Cadangan Bus Pariwisata PO Ardiansyah Ternyata Kenek

Ketua Sub Komite LLAJ, KNKT, Ahmad Wildan.

Mojokerto (beritajatim.com) – Ade Firmansyah yang sebelumnya diberitakan sebagai sopir cadangan bus pariwisata PO Ardiansyah yang mengalami kecelakaan di Jalan Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) KM 712+200/A ternyata buka sopir cadangan. Pria berusia 29 tahun tersebut ternyata hanya kenek.

Hal tersebut diungkap Ketua Sub Komite Lalu-lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ahmad Wildan. “Dia ini kenek. Pada saat bus itu berhenti istirahat, kewajiban kenek itu jaga bus, dia nggak boleh ikut tidur. Pengemudinya kan tidur. Kenek itu menjaga bus,” ungkapnya, Rabu (18/5/2022).

Masih kata Wildan, jika pengemudi bisa tidur di bagasi tapi harus ada yang jaga bisa dan barang-barang milik penumpang. Ini merupakan tugas kenek. Saat berhenti terakhir di Rest Area Ngawi, pengemudi tidur di bagasi belakang dan penumpang meminta untuk berangkat karena rasa pertemanan, kenek berinisial membawa bus.

“Dia itu sebenarnya, gini rasa pertemanan. Jadi melihat mengemudinya, temannya itu lagi tidur. Kasian kan subuh, penumpangnya udah ayo berangkat, berangkat. Mau ngugah (membangunkan) temannya (sopir) nggak penak (enak). Penjelasan dia (kenek) nih, Siapa yang memerintahkan Bapak, Anda itu? Saya tanya, enggak ada sih cuma rasa persahabatan aja. Inisiatif sendiri bawa,” jelasnya.

Wildan menjelaskan, hasil temuan KNKT yakni faktor yang sangat penting menjadi kata kunci adalah waktu kegiatan. Sabtu (14/5/2022) malam berangkat dari Surabaya menuju Dieng, Wonosobo dan Jogjakarta sampai Minggu (15/5/2022) malam. Senin (16/5/2022) pagi sudah di Ngawi, kenek selama di kendaraan dia duduk di posisi yang kecil.

“Kalau pun dia tidur, tidur-tidur ayam ya. Tidak tidur lelap. Rentang waktu itu sangat cukup untuk membuat orang lelah. Dia, pembantu pengemudinya berinisiatif sendiri. Sudah naik semua, mesin nggak dimatikan panas, dihidupin aja. Ya udah jalan, inisiatif sendiri. Di situ itu kunci masuk kita akan membuat, mendesain regulasi dan pengawasannya agar hal ini nggak terulang kembali,” katanya.

Menurutnya, ada faktor yang berkontribusi. Dalam suatu kecelakaan, jika faktor tersebut diambil kecelakaan kerja tidak akan terjadi. Dalam kegiatan wisata para korban ke Dieng, Wonosobo-Jogjakarta tersebut dilakukan dalam rentang waktu di luar ambang batas manusia. Jika dipotong dengan istirahat, maka kecelakaan tidak terjadi.

“Artinya orang itu tidak ngantuk (kenek). Kalau kita lihat dari Undang-undang Ketenagakerjaan, Undang-undang LLAJ maksimal 12 jam tapi diregulasi diatur cuma 8 jam. 4 jam 4 jam, bus tidak boleh dibawa lagi. Aturannya kan gtu. Ini lebih dari 12 jam itu, udah lebih dari 24 jam malah. Edan,” tegasnya. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar