Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Empat Sungai Besar di Jember Rawan Bencana Banjir, Ini Antisipasinya!

Bupati Hendy Siswanto (pojok kiri) sedang meninjau alat early warning system di sungai.

Jember (beritajatim.com) – Ada empat sungai besar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang rawan bencana banjir. Pemerintah daerah setempat masih belum maksimal dalam mengalokasikan anggaran untuk menangani banjir ini.

“Enpat lokasi itu: di daerah barat, di daerah Tanggul, ada sungai di situ, di kota ini ada sungai Bedadung dan Jompo, dan di Mayang,” kata Bupati Hendy Siswanto, usai acara apel Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional, Senin (30/5/2022).

“Saya sering menyampaikan bahwa ‘penikmat’ bencana itu selama ini adalah saya, karena rumah saya yang tenggelam. Jadi saya memahami treatment-nya. Sampai hari ini Pemkab Jember belum mengalokasikan anggaran secara maksimal untuk bencana, karena biayanya sangat besar. Bencana harus ditangani bersama,” kata Hendy.


Hendy berterima kasih kepada relawan dan masyarakat. “Bencana memang harus bersama-sama penanganannya. Dan ini Pemkab Jember wajib menjadi leading sector untuk menyinergikan seluruh potensi di Jember,” katanya.

Di balik potensi bencana di Sungai Jompo, Hendy melihat ada potensi di sana. “Kami akan melakukan pemetaan, setiap kilometer kami akan membuat satu drempel, peninggian dari material-material batu sekitar untuk bendung sementara. Jadi begitu ada banjir bandang, air tertahan sejenak. Ini untuk memberi kesempatan untuk evakuasi,” katanya.

“Bila tidak ada bencana, drempel-drempel itu bisa jadi destinasi wisata. Itu akan jadi kearifan masyarakat lokal, kalau ada ikan bisa buat memancing. Airnya luar bisa. Bening di Sungai Jompo ini. Tentunya di balik kesulitan, di situ ada kemudahan,” kata Hendy.

Antisipasi bencana lainnya adalah dengan pemasangan alat early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini. “Alat ini dibuat Fakultas Teknik Universitas Jember. Terbukti kemarin pada 2021, alat ini dipasang di dekat rumah saya, saat terjadi banjir besar dan rumah saya tenggelam, EWS berbunyi. Masyarakat kampung kami langsung mengevakuasi diri (saat EWS terdengar),” kata Hendy.

EWS juga dipasang di hulu Sungai Jompo. “Di situ ada batu besar yang ditulisi ukuran debit air pada posisi 50-220 centimeter. Kalau ketinggian air sampai garis 80 centimeter, berarti banjir. Sudah dicoba, EWS bunyi dan ada kamera untuk memonitor,” kata Hendy.

EWS ini menggunakan sel tenaga matahari (solar cell). “Luar biasa. Ramah lingkungan sudah ada di EWS ini,” kata Hendy.

Universitas Jember menyiapkan sepuluh unit EWS. Namun Hendy menginginkan jumlah yang lebih banyak. “Sungai besar kita ada empat. Tentunya kami akan sesuaikan dengan anggaran. Pemkab Jember akan mendukung Mas Satrio (Satrio Budi Utomo, koordinator tim pembuat dan pelaksana EWS) dan Universitas Jember untuk terus mengembangkan produk EWS ini, karena insya Allah kabupaten lain juga memerlukan itu,” katanya.

Cara berikutnya untuk mengantisipasi banjir adalah dengan budidaya tanaman rumput vetiver. “Vetiver ini kalau ditanam tingginya tidak sampai satu meter. Tapi akarnya lima meter. Kami tanam dua ribu vetiver di hulu daerah pinggiran untuk mencegah longsor,” kata Hendy. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev