Peristiwa

Ekskavasi Awal di Situs Klinterejo Belum Temukan Bentuk Asli

Tim BPCB Jawa Timur saat melakukan ekskavasi Situs Klinterejo yang terletak di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Foto : misti/beritajatim

Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur mulan melakukan ekskavasi (pengalian) di Situs Klinterejo di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Ekskavasi awal belum ditemukan bentuk candi, batur atau hanya sebatas penguatan untuk yoni saja.

Kasub Unit Pemanfaatan, BPCB Jawa Timur, Pahadi mengatakan, arkeolog 4 orang, tim penggambar ada 6 orang, tim dokumentasi ada 3 orang, tim penggali ada 27 orang. “Total ada 40 orang. Kita ekskavasi mulai tanggal 19 kemarin hingga tanggal 30 Agustus mendatang,” ungkapnya, Selasa (20/8/2019).

Masih kata Pahadi, sebelumnya Dessmber 2018 dilakukan kajian dengan sasaran di sisi barat. Hasil ekskavasi masih ada struktur bata dan batubata. Kemudian sampling di sisi utara juga menunjukan ada struktur lanjutan pada kedalaman 1,5 meter hingga 1,8 meter.

“Di sisi sebelah selatan ternyata di salah satu sudut di tembok sekeliling yoni juga menunjukan struktur yang mengarah ke selatan. Sedangkan di Timur, tidak terlalu dalam. Hanya memang ada saluran buang, tapi itu baru. Memang ada beberapa kali penambahan di sini,” katanya.

Seperti bangunan maupun dinding sebagai fasilitas kenyamanan peziarah. Salah satunya tembok keliling yoni yang dilakukan penambahan tahun 1964 dan ditambah lagi pada tahun 1984. Ditemukan struktur dinding seperti selasar tapi lanjutan strukturnya hanya ditopang struktur dinding yang baru.

“Jadi kemarin kita kupas di sisi barat, ternyata tahun 1964 itu ada penambahan struktur yang menopang di striktur asli. Tujuan kita melakukan ekskavasi secara total itu untuk melihat bentuk aslinya seperti apa. Tapi setelah kita buka, ada struktur asli yang masih terpendam di kedalaman 1,5 sampai 1,8 meter,” jelasnya.

Pahadi menjelaskan, BPCB juga akan mencoba lakukan normalisasi di lokasi tersebut. Di sisi utarapun, lanjut Pahadi, ternyata juga tembok keliling dulu diatasnya terdapat pondasi yang sekarang ditemukan pagar keliling yang baru. Sehingga kemungkinan besar tembok yang bisa lihat sekarang menopang di struktur yang lama, yang asli.

“Cuma kita memang datanya masih mencari. Apakah bentuknya merupakan candi yang dikenal memiliki kaki tubuh dan atap atau dia memang kaki atau semacam batur saja kemudian bangunan semi permanen karena banyak ditemukan umpak. Umpak ini menunjukan untuk menyangga tiang, ini belum kita pastikan,” jelasnya.


Caption : Kasub Unit Pemanfaatan, BPCB Jawa Timur, Pahadi. Foto : misti/beritajatim

Dari foto lama yang ada, tidak ada bangunan yang menunjukan candi. Namun jika melihat konsep bangunan klasik tersebut menunjukan candi, karena ada temuan yoni. Hingga sampai ini belum ditemukan bentuk candi, batur atau memang hanya sebatan penguatan untuk yoni saja.

“Tapi itulah baru asumsi, belum menjadi kepastian dari kita. Tanggal 29-30 Agustus, kita meminta bantuan dari tim ahli untuk melihat secara konsep. Yakni dari arkeolog dari UN Malang, kebetulan beliau merupakan lulusan arkeolog dari UGM yang nanti membantu kita untuk menginterprestasi apakah ini memang candi atau hanya sebatas batur,” tuturnya.

Karena memang diakui ada beberapa mirip seperti ini, yoni ditengah-tengah kemudian ada bangunan di kiri kanannya. Seperti di Mejayan, caruban. Ada yoni juga, bilik-bilik juga, juga dari bata juga tapi dia tidak ada bangunan yang menunjukan seperti candi. Namun jika dilihat dari yoni dan lingga, adalah sebuah kelengkapan di dalam candi.

“Tahun ini, ekskavasi dilakukan di sisi barat dan utara. Ini full, yang seperti lorong ini, kita gempur semua, sampai 1 meter sebelum pagar. Kebaratnya juga sama. Tahun depan kita rencanakan dua tahap. Tahun 2020 kita rencanakan selesai pengupasannya. Observasi sekaligus membersihkan bangunan yang tidak memiliki konteks karena itu bangunan baru,” tegasnya.

Pihaknya berharap, bisa mengintegrasi adalah bentuk candi karena rata-rata berbentuk simetris. Ketika ditemukan di sisi utaranya maka kurang lebih sisi selatannya sama sehingga nantinya bisa disimpulkan Situs Klinterejo adalah candi atau batur. Situs Klinterejo diyakini sebagai masa Bhre Kahuripan.

“Ini kahuripandugaan kuatnya pada masa Bhre Kahuripan, masih Majapahit. Kalau kita lihat di Yoni, peninggalan tahun 1294 Saka. Jadi kalau kedalaman 1,8 masih meter masih ada struktur lagi maka akan terus kita kejar. Bisa sampai 2 meter. Ini sebagai tempat pemujaan umat Hindu,” urainya.

Jika batur, tegas Pahadi, semacam penguatan atau bangunan bawah. Lebih tepatnya kaki dari bangunan candi. Batur itu tidak ada bangunan di atasnya, hanya ditempatkan yoni. Untuk luasan situsnya 25X25 meter persegi, sementara tanahnya kurang lebih 800 meter persegi.[tin]



Apa Reaksi Anda?

Komentar