Peristiwa

Eksekutor ‘Swasta’ Seret Istri Dokter Saat Pengosongan Rumah

Muljo Hardijana (paling kiri) kuasa hukum dokter Budi Santoso (paling kanan) dan Sriyekti istri dokter (tengah) dalam konferensi pers

Surabaya (beritajatim.com) – Eksekusi rumah milik dokter Budiyo Santoso warga Residen Sudirman berujung dilaporkan tindak pidana pencurian ke Polda Jatim karena eksekutor “swasta’ tersebut memasuki rumah pekarang dan mengambil barang tanpa ijin.

Seharusnya eksekusi rumah dilakukan melalui pengadilan negeri namun sejumlah orang suruhan yang bernama Arman memasuki rumah dokter dan menyeret Ny Sayekti istri dokter keluar rumah untuk dikosongan.

Muljo Hardijana kuasa hukum dokter Budi Santoso menganggap tindkaan pengsoangan rumah dilakukan dengan bar-bar dan mengangkangi hukum.

Kuasa hukum Budi yakni Muljo Hardijana menyatakan awal kasus ini adalah niat dokter yang ingin membantu tetangganya yang mau menjual tanahnya dan butuh uang Rp 600 juta. Karena pada waktu itu dokter tidak memiliki uang sebanyak itu, maka dokter berusaha mencari hutangan.

“Karena dokter juga mau menjual tanahnya, jadi diupayakan untuk mencari hutangan terlebih dahulu,” ujar Mulyo, Senin (3/5/2019).

Sampai akhirnya, isteri dokter yakni Sriyekti mendapat informasi dari temannya bahwa ada seseorang yang bernama Arman yang bisa memberikan pinjaman.

Begitu mendapat informasi tersebut, dokter bersama isteri mendatangi kantor Arman yang ada di daerah Siwalan Kerto. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, Arman kemudian menyanggupi akan memberikan pinjaman sebesar Rp 1 miliar.

Setelah itu lanjut Mulyo, Arman mengirim seseorang untuk melakukan appraisal kemudian rumah Residance Sudirman difoto dan kemudian mereka approve. ” Kemudian disuruh datang ke RM di Jalan Sumatra. Disana sudah banyak orang. Ada notaris juga tapi namanya siapa? Dokter tidak mengetahui,” uajrnya.

” Nah pak dokter dan isterinya ini tidak mengetahui sosok Arman ini siapa, apakah yang dihadapi dokter tersebut benar Arman atau tidak ya tidak tahu. Karena butuh uang maka sampai lupa mempertanyakan,” lanjut Mulyo.

Kemudian dokter disodori sebuh perjanjian yang isinya melakukan jual beli, kemudian dipertanyakan lho kok ini jual beli? Dijawab, ini hanya formaliatas saja karena yang Arman ini bukanlah lembaga simpan pinjam. Bahkan dalam surat tersebut ditulis dokter telah menerima Rp 2 miliar.

” Sempat dipertanyakan oleh isteri dokter, lho kok Rp 2 miliar, wong saya tidak menerima Rp 2 miliar kok. Tapi terus dibilang bahwa ini hanya diformalitas saja. Ibu sudah menegaskan bahwa tidak menjual rumah tapi terus dibilang hanya formalitas saja,” ujarnya.

Setelah itu pinjaman tersebut ditransfer ke rekening dokter namun tidak sebesar Rp 1 miliar melainkan Rp 793 juta dengan alasan ada diskonto. Tak habis sampai disitu, dokter diminta membayar bunga sebesar lima persen atau Rp 50 juta tiap bulan.

” Itupun disesatkan karena disuruh transfer ke rekening yang berbeda-beda. Dan akhirnya bunga tersebut hanya mampu terbayar selama empat bulan saja,” ujarnya.

Kemudian pasa 28 April 2019 sebelum kejadian ibu dikeluarkan. Pihak Arman melalui kuasa hukumnya memberikan surat peringatan bahwa rumah tersebut sudah dialihkan kepemilikannya menjadi milik Arman sesuai surat jual beli yang dilakukan sebelumnya.

Setelah surat somasi dilayangkan, selang beberapa hari kemudian didatangkan sekitar 50 sampai 60 orang memaksa isteri dokter keluar, dengan berbekal surat dari kuasa hukum tersebut. ” Isteri bu dokter ini dipaksa keluar sampai tangannya terkilir, kemudian rumah dikosongakan dan tidak diketahui sampai saat ini keberadaannya. Sampai akhirnya pihaknya melaporkan kasus penganiayaan ke Polrestabes dan Pencurian ke Polda Jatim,” ujarnya.

Mulyo sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan pihak Arman, kalaupun toh misalnya ada kesalahan yang dilakukan pihak dokter namun tidak seperti itu penyelesaiannya. ” Semua ada proses hukumnya, negara kita negara hukum yang menjunjung HAM bukan dengan cara korak seperti ini,” ujarnya.

Terpisah kuasa hukum Arman yakni Rahardi saat dikonfirmasi terkait masalah ini menyatakan bahwa perkara kliennya adalah murni jual beli, dan pihaknya mengantongi semua bukti-bukti adanya jual beli tersebut.

Jual beli dilakukan di depan notaris, akta jual beli tersebut dilakukan di sebuah restoran di Surabaya. Rumah tersebut dibeli kliennya pada 2017 silam seharga Rp 6 miliar dan sudah dibayar lunas.

” Ini kita bicara faktanya saja, masa seorang profesor tidak paham apa itu jual beli dan bilang tidak tahu. Ini kan tidak masuk akal,” ujarnya.

Andai kata antara dokter Budi dengan kliennya itu ada hutang piutangpun lanjutnya, harusnya ada kewajiban membayar.

Terkait adanya pembayaran bunga sebesar Rp 50 juta tiap bulan yang dibayarkan selama empat bulan, Rahardi membantah bahwa pembayaran tersebut tidak pernah ada. ” Kalau ada pembayaran itu ya tolong dibuktikan saja, apakah pembayarannya tersebut untuk pak Arman atau tidak,” ujarnya.

Rahardi menceritakan bahwa kliennya sah memiliki rumah tersebut kareba pada tahun 2017 kliennya membeli rumah milik dokter Budi sebesar Rp 6 miliar dan sudah diterima semua pembayarannya dan pihaknya juga memiliki bukti pembayaran tersebut.

Terkait klaim bahwa Arman hanya membayar Rp 793 juta pada dokter, Rahardi menyatakan hal itu hak dokter cuma harus berdasarkan bukti yang ada.

Rahardi mengklaim bahwa dokter sudah sepakat untuk melakukan jual beli dengan Arman di depan notaris, dan perjanjian tersebut dilakukan di sebuah restoran di Surabaya.

“Kwitansi ada, IJB kuasa ada, Akta jual beli juga ada. Sertifikat juga sudah balik nama. Janganlah maling terial maling, saya nggak suka itu. Faktanya saja bagaimana,” ujarnya.

Rahardi menambahkan, apabila sertifikat rumah tersebut sudah berubah nama menjadi kliennya, maka tidak seorangpun yang bisa melarang kliennya untuk mendatangi rumah itu. ” Kita tidak mengusir paksa lho, kita hanya mau renovasi daripada nanti kenak debu semua,” ujarnya.

Rahardi juga mengakui sudah melakukan somasi pada dokter sebanyak dua kali sampai akhirnya dia mendatangi rumah tersebut dengan membawa 90 orang pekerja.

” Kami mau membawa 100 ribu orangpun nggak masalah wong itu rumah klien saya kok,” ujarnya.

Terkait adanya saksi-saksi yang melihat, Rahardi menyatakan ada dari notaris dan sebagainya. Tapi dari pihak dokter, Rahardi mengaku tidak mengetahui.

Rahardian menambahkan Sriyekti istri dr.Budi dipersilakan bicara diluar rumah dgn sopan dan santun, dan keluar rumah berjalan sendiri kemudian duduk diluar rumah tanpa ada luka sedikitpun.

Terpisah Direskrimum Polda Jatim Kombes Pol Gupuh Setiyono menyatakan kasus ini dalam proses penyidikan dan pihaknya akan segera memanggil pihak-pihak terkait dalam kasus ini. ” Masih salam proses mbak,” ujarnya. [uci/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar