Peristiwa

Ekonomi Jember Terdampak Sebelum Ramadan Akibat Jalan Ambrol

Seorang warga yang tinggal di bantaran sungai yang berdampingan dengan pertokoan Jompo sedang membersihkan rumahnya.

Jember (beritajatim.com) – Robohnya 10 rumah toko di pusat perbelanjaan Jompo akibat ambrolnya sebagian Jalan Raya Sultan Agung, Senin (3/3/2020) lalu, berdampak terhadap perekonomian Jember sebelum memasuki Ramadan.

Saat ini, sebagian jalan tersebut ditutup dan arus lalu lintas dialihkan karena ada perbaikan. Kepolisian RI memperkirakan penutupan tersebut akan memakan waktu satu bulan. Hendy Siswanto, pengusaha dan pemilik toko busana yang berada di seberang ruko yang ambrol itu, mengatakan, dampak perekonomian besar karena toko di sekitar pertokoan Jompo praktis harus tutup.

“Kami tidak bisa berniaga lagi. Toko sepanjang Sultan Agung hingga alun-alun juga terdampak, karena Sultan Agung adalah jalan nasional, jantung pusat perekonomian. Kalau jalan nasional ditutup di tengah dan dialihkan, maka akan berdampak terhadap keseluruhan Kabupaten Jember, khususnya tengah kota,” kata Hendy, Senin (9/3/2020).

Sejumlah jalan yang seharusnya digunakan untuk satu jalur, terpaksa harus dibuat dua jalur. Ini membuat area parkir di tengah kota sulit dibuka. “Orang akan bertransaksi akan susah,” kata Hendy.

Dampak lainnya adalah terhadap pegawai atau karyawan toko yang terpaksa tak bekerja. “Toko saya, Rien Collection, tetap saya buka, untuk menunjukkan berapa sih (pemasukan) sebelum dan sesudah runtuhnya pertokoan Jompo. Kami omzet sekarang hanya tersisa 20 persen. Jatuh benar sejatuh-jatuhnya,” kata Hendy.

Hendy belum bisa menghitung kerugian yang bakal ditanggung pengusaha dengan adanya penutupan jalan selama satu bulan. “Di toko kami ada 160 orang bekerja. Belum di toko lain. Dua bulan lagi Ramadan. Diharapkan kepada pemerintah agar segera pekerjaan ini diselesaikan dan jalan segera dibuka,” katanya.

“Kedua, kami berharap, pemerintah bisa mengusahakan kembali bagi pengusaha di pertokoan Jompo (yang roboh) tersebut agar bisa berusaha di tempat lain. Jangan melihat (administrasi) surat-menyuratnya dan kontrak antara pemilik toko dan pemerintah daerah. Kalau kondisi ini ditangani setahun lalu tidak akan seperti ini. Mungkin hanya 4-6 toko perlu dibersihkan, tidak perlu 26 tokoh dihancurkan. Tapi sekarang seluruhnya hancur dan hilang,” kata Hendy. dia sendiri punya empat toko di ruko.

Hendy mengatakan, pertokoan Jompo adalah monumental pada 1976. “Pertokoan dua lantai ini pada zamannya adalah kebanggaan kami masyarakat Jember. Di Jawa Timur ada tiga kota yang punya pertokoan dua lantai saat itu: Surabaya, Malang, Jember. Ini hasil karya Bupati Letkol Abdul Hadi almarhum. Kami berharap ada kebijakan bagi kami,” katanya.

Anggota Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Jember Nyoman Aribowo mengatakan, sebenarnya persoalan robohnya pertokoan Jompo seharusnya sudah diantisipasi jauh-jauh hari. Ini dikarenakan sejak setahun silam sudah ada rekomendasi bahwa kawasan itu harus dibongkar untuk perbaikan jalan dan jembatan. Pertokoan itu terletak di atas Sungai Jompo dan berdiri sejak 1976.

DPRD Jember sudah berupaya mengundang eksekutif tahun lalu. Namun tidak ada perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember yang hadir. “Antisipasi seharusnuya direncanakan, sehingga risiko minim. Ketika antisipasi tidak ada, ini pasti penanganannya juga semakin rumit, sehingga dampak ekonomi sangat besar, karena ini jalur utama menuju pusat pemerintahan, pusat pendidikan, dan pusat ekonomi,” kata Nyoman. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar