Peristiwa

Duka Petani Jombang, Puluhan Hektar Garbis Membusuk Tersiram Hujan

Lahan seluas 100 hektar di Desa Rejoso Pinggir, Kecamatan Tembelang yang ditanami garbis

Jombang (beritajatim.com) – Nasib petani buah di Jombang sedang merana. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Betapa tidak, puluhan hektar garbis/blewah yang siap panen harus membusuk di sawah. Itu karena siraman hujan dalam beberapa hari terakhir ini.

Adalah Heri Subeki (30), salah satu petani yang terpukul cuaca. Sekitar dua hektar lahan garbis miliknya tak laku dijual. Karena itu pula warga Desa Rejoso Pinggir, Kecamatan Tembelang ini syok. Dia lantas melampiaskan kekecewaannya dengan mencacah garbis tersebut. Potongan-potongan buah itu kemudian ia usapkan ke muka. Heri ngomel-ngomel tak karuan.

Video adegan Heri melakukan protes itu pun viral. Menyebar secara berantai melalui media sosial. Dari satu gawai ke gawai lainnya. “Itu spontan. Bentuk kekecewaan. Saya sendiri tidak tahu kalau viral,” ujar petani muda asal Desa Rejoso Pinggir ini, Sabtu (31/10/2020).

Usai viral, sejumlah wartawan mendatangi pemilik lahan garbis ini. Heri sedang berada di sawah tempat tanaman buah tersebut tumbuh. Kekecewaan Heri belum pulih. Dia melangkahkan kakinya ke tengah lahan. Matanya menyapu hijaunya dedaunan tanaman blewah.

Dia kemudian memetik buah tersebut, lalu membukanya. “Ini buahnya masih menempel di tanaman. Tapi saat kita buka, dalamnya seperti ini. Tidak layak dimakan, karena mulai membusuk. Makanya tidak ada yang mau beli” kata Heri ketika berada di lahan blewah.

Memang, di sela-sela tatanam buah itu, terlihat sisa air hujan masih menggenang. Sejurus kemudian, Heri kembali mempraktikkan adegan di video yang viral itu. Dua memecah blewah, kemudian membasuhkan ke mukanya sendiri. “Tolong nanti belikan sabun ya untuk cuci muka,” katanya berkelakar, lalu menendang sejumlah buah yang ada di dekatnya.

Garbis yang membusuk di sawah Desa Rejoso Pinggir karena siraman air hujan, Sabtu (31/10/2020)

Heri menjelaskan, dirinya sangat terpukul atas kejadian itu. Pasalnya, sawah seluas dua hektar yang ia tanami garbis merupakan lahan sewa. “Ngelu mas (pusing mas). Cilik nggedekno, wis siap panen kenek udan (Kecil dibesarkan, sudah siap panen terkena hujan). Tapi bagaimana lagi, hujan itu proses alam,” kata Heri kepada wartawan.

Kekecewaan petani muda ini memang sangat beralasan. Pertama, sawah yang digunakan oleh Heri menanam garbis adalah lahan sewa. Kedua, saat awal tanam, petani kesulitan mendapatkan pupuk. “Ketiga, saat hendak panen, garbis tersiram hujan beberapa hari,” ujarnya.

Heri menceritakan, dirinya menyewa lahan dua hektar untuk ditanami garbis. Nah, modal per hektarnya mencapai Rp 14 juta. Yakni digunakan untuk membeli benih, pupuk dan obat-obatan. Belum lagi ongkos tenaga/kuli, makan, serta rokok. Hasilnya, lahan dua hektar itu tidak bisa dipanen, karena buahnya membusuk.

“Sudah saya tawarkan kemana-mana, tidak ada yang mau membeli. Padahal, tiga hari lagi sudah panen, tapi malamnya hujan tak berhenti. Hingga akhirnya seperti ini. Gagal semuanya. Buah membusuk,” kata Heri mengulang pernyataannya.

Kepala Desa Rejoso Pinggir Yoyok Suprianto membenarkan bahwa video yang viral tersebut adalah warganya. Dia juga mengakui bahwa petani di desanya banyak yang menanam garbis. Totalnya mencapai 100 hektar. Dari jumlah itu, sekitar 80 sampai 90 persen mengalami gagal panen.

Lantas apa yang dilakukan desa? Yoyok mengungkapkan pihak desa tidak bisa berbuat banyak. Karena selama ini petani melakukan penanaman secara mandiri. “Kalau kerugiannya ya mencapai ratusan juta. Karena dari 100 hektar lahan garbis di Desa Rejoso Pinggir, sekitar 80 sampai 90 persen gagal panen,” pungkasnya. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar