Peristiwa

Banjir Jombang

Dua Minggu Bertahan di Pengungsian, Tak Ada Jalan Pulang

Banjir selama dua minggu di pedukuhan Kalipuro. Bandarkedungmulyo, Jombang, Rabu (17/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Dari atas tanggul, Surip (72) menunjukkan rumahnya yang masih tergenang air setinggi pinggul. Tembok rumah itu berwarna putih. Masih terlihat jelas meski dari kejauhan. Sudah dua minggu ini rumah tersebut tak bertuan. Karena Surip dan keluarganya pergi mengungsi. Begitu juga rumah-rumah di sekitarnya.

Selama dua minggu ini, air belum juga pergi. Hamparan sawah di dekat rumah warga pedukuhan Kalipuro, Desa Kedunggabus, Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo Jombang juga masih menggenang. Jalan desa yang biasanya untuk aktivitas juga belum terlihat. Semuanya masih diselimuti air bah, Kamis (18/2/2021).

Tentu saja, belum ada jalan bagi warga untuk pulang. Yang nampak hanya perahu batang pisang. Merambat pelan di atas air sekitar rumah warga. Seorang pria memegang galah berdiri di rakit darurat tersebut. Dia adalah warga Kalipuro yang sedang menjenguk rumahnya. Galah tersebut ia jejakan ke dasar banjir, kemudian didorongnya ke depan, rakit batang pisang pun bergerak perlahan.

Ada juga perahu milik relawan yang membantu warga mengambil barang dari rumah untuk dibawa ke pengungsian. Perahu yang ini lebih modern. Digerakkan oleh dua orang menggunakan dayung. Perahu itulah yang mengapung-apung di atas banjir. Mengangkut perbekalan, lalu membawanya ke lokasi pengungsian.

Surip masih memandang rumahnya yang berjarak sekitar 300 meter dari tenda darurat tempatnya mengungsi. Sedangkan tenda darurat berbahan terpal itu hanya berjarak 200 meter dari tanggul Sungai Afvoer yang jebol.

Yulaikhatin dan Surip, pengungsi yang mendirikan tenda di tanggul Sunga Avfoer, Rabu (17/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]
Di atas tanggul kritis itulah Surip membangun tenda berbahan terpal. Warnanya biru, bentuknya segitiga. Panjang tenda itu sekitar empat meter. Potongan-potongan bambu menjadi penyangga tenda tersebut. Di tenda itu sang istri Yulaikhatin (65) setia menemani.

Di tanggul Sunga Afvoer hanya berdiri satu tenda pengungsi milik keluarga Surip. Hal tersebut tentu berbeda dengan tanggul Sungai Brantas di Dusun Kedunggabus. Puluhan tenda berderet memanjang dari ujung ke ujung. Ratusan pengungsi mendiaminya.

Siang mulai memanggang kepala ketika Surip dan Yulakhatin sedang duduk di atas terpal tenda miliknya. Sedangkan dua anak perempuan sedang tiduran di tenda tersebut. Hawa panas di tenda membuat keringat menggarisi wajah. Anak perempuan Surip mengibas-ngibaskan potongan kardus untuk mengusir gerah.

Yulaikhatin mengungkapkan, rumahnya adalah yang paling dekat dekat tanggul jebol. Makanya, banjir luapan sunga tersebut sangat parah masuk rumahnya. “Rumah saya yang pertama kena (banjir). Karena memang jarak tanggul jebol dengan rumah sangat dekat, sekitar 300 meter,” kata ibu lima anak ini.

Antara tanggul jebol dengan rumah Surip hanya terpisah sawah. Tanggul jebol sepanjang 12 meter, kemudian sawah, lalu rumah keluarga Surip. Di antara hamparan sawah itu ada jalan sebagai akses warga keluar desa. Namun, sejak Jumat (5/2/2021), semua terendam air. Ketinggian air sempat surut, namun kini naik lagi.

Pengurus Muslimat NU Dusun Kedunggabus ini masih ingat, pada Jumat malam itu, pengeras suara dari masjid tak henti memberikan komando. Warga diminta segera meninggalkan rumah untuk mengungsi. Yulaikhatin berserta sang suami langsung bergegas. Dia tak sempat menyelamatkan barang berharga seperti televisi dan hewan ternak.

Mereka sadar, dalam ancaman bencana nyawa-lah yang paling berharga. Malam itu juga mereka merayap dalam gelap menuju rumah saudaranya yang ada di Dusun Bra’an, Desa Bandarkedungmulyo. “Ayam, itik, berikut kandangnya terbawa banjir. Saat mengungsi saya tidak bawa apa-apa. Hanya selembar baju di badan,” kata ibu lima anak ini.

Setelah mengungsi di rumah saudaranya, ada kabar bahwa banjir henda pergi. Air mulai surut. Surip dan Yulaikhatin menyambangi rumahnya. Melakukan bersih-bersih. Menata perabotan yang porak-poranda akibat banjir.

Namun situasi tersebut tidak berlangsung lama. Karena tanggul Sunga Afvoer Besuk di dekat rumahnya jebol lagi sepanjang 12 meter. Tentu saja, ‘tamu tak diundang’ datang lagi ke rumah keluarga Surip. Ketinggiannya mencapai pinggul. Surip dan Yulaikhatin terusir lagi dari rumahnya.

Warga pedukuhan Kalipuro menunggu perahu darurat untuk menjenguk rumahnya, Rabu (17/2/2021)

“Jadi sekitar tiga hari saya mendirikan tenda di tanggul ini. Saya memilih tanggul ini karena dekat dengan rumah. Sekaligus bisa mengawasi rumah. Kalau di tanggul Brantas atau di gedung SD (Sekolah Dasar) terlalu jauh,” kata Surip yang diamini oleh istrinya.

Ketika disinggung soal bantuan, baik Surip maupun Yulakhatin lebih irit bicara. Namun yang nampak di tenda tersebut tak ada tumpukan logistik. Hanya ada beras dalam wadah bening. Beras tersebut mulai menipis. Kemudian kompor dan peralatan masak, serta roti ‘kasur’ yang kemasannya sudah sobek.

Kepala Desa Bandarkedungmulyo Zainal Arifin membenarnya bahwa ada satu keluarga yang mendirikan tenda di dekat lokasi tanggul jebol Sungai Afvoer Besuk. Menurutnya Zainal, pihaknya sudah memberikan imbauan agar mereka bergeser. Namun keluarganya tersebut ingin dekat dekat rumhanya.

“Benar, ada warga yang mendirikan tenda di Sungai Afvoer. Itu warga saya. Sudah kami ingatkan, tapi alasannya mendekati dan mengawasi rumahnya yang tidak jauh dari tanggul tersebut,” kata Zainal ketika dikonfirmasi melalui ponselnya.

Zainal juga mengatakan bahwa masih ada 600 warga yang bertahan di lokasi pengungsian. Rinciannya, 400 orang di sepanjang tanggul Sungai Brantas dan 200 orang di SDN Bandarkedungmulyo. “Masih ada 600 warga Dusun Kedunggabus yang mengungsi,” kata Zainal, Kamis (18/2/2021).

Satu dari ratusan keluarga itu adalah Surip dan Yulakhatin, serta anak-ananya. Dari tanggul sungai kritis, keluarga ini hanya berharap banjir segera menyingkir. Bencana yang mengurung warga selama dua minggu segera berlalu, dan air bah yang menenggelamkan desa segera musnah. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar