Peristiwa

Ditemukan Sudut di Sisi Timur, Situs Kumitir Merupakan Talud

Tim gabungan melakukan ekskavasi di Situs Kumitir. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Proses ekskavasi yang dilakukan tim Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur terhadap situs Kumitir di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto selesai. Struktur bata merah tersebut berbentuk talud kuno atau tembok penguat tanah.

Talud diperkirakan mengelilingi sebuah kompleks bangunan suci era Kerajaan Majapahit yang dibangun pada abad ke-14 tersebut dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Selama 10 hari, tim ekskavasi baru menemukan satu struktur bata membentuk sudut di sisi timur laut.

Tim ekskavasi merupakan tim gabungan dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCPM) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta BPCB Jawa Timur berjumlah 23 orang. Sebanyak 1 orang arkeolog, 11 tenaga teknis serta 11 orang tenaga lokal.

Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, ekskavasi dilakukan selama 10 hari, sepanjang 100 meter struktur bata kuno terbagi dalam tiga titik berhasil disingkap. “Ini yang utuh memanjang dari selatan ke utara sepanjang 70 meter, di tengah 20 meter dan di sudut 10 meter,” ungkapnya, Rabu (30/10/2019).

Ekskavasi masih sebatas mencari luasan struktur bata. Sehingga, proses penggalian terfokus pada bentangan struktur bata kuno yang memiliki ketebalan sekitar 140 cm ini dengan tinggi 14 lapis bata. Ekskavasi baru mengangkat lapisan tanah lahar dingin yang isiannya pasir, kerikil dan bongkah.

“Diyakini secara keseluruhan panjang total struktur bata kuno ini lebih dari 200 meter, tim baru menemukan satu struktur bata membentuk sudut di sisi timur laut. Sementara di sisi barat daya, belum menemukan struktur sudut yang tersambung dengan struktur bata kuno ini,” katanya.

Wicak menambahkan, untuk bentuknya sementara diprediksi berupa persegi atau dimungkinkan persegi panjang. Tapi untuk pembangunannya, dipastikan dibangun pada era Majapahit. Hal itu dikuatkan dengan dimensi bata dengan panjang bata 32 cm, lebar 18 cm serta memiliki ketebalan 6 cm.

“Bangunan ini diperkirakan sempat tertimbun. Kami meyakini, dulunya sungai Brangkal atau Pikatan itu sekitar sini (timur). Jika dilihat dari sedimen tanah, diyakini dulu Sungai Pikatan yang mengalir dari lereng Gunung Welirang hanya berjarak beberapa puluh meter dari lokasi situs,” jelasnya.

Saat bencana banjir lahar dingin, material yang terbawa diperkirakan menimbun bangunan tersebut. Wicak menambahkan, beberapa sumber menyebutkan jika pembatas alam Kota Majapahit itu adalah sungai. sisi timur merupakan Sungai Brangkal, yang sekarang sudah bergeser sekitar 1 kilometer, sisi barat adalah Sungai Gunting.

“Temuan ini akan kita laporkan ke Dirjen PCPM. Hasil akhirnya akan merekontruksi sebera besar bentangan potensi cagar budaya untuk dilanjutkan (ekskavasi) tahun depan. Karena ini kawasan cagar budaya nasional, sehingga menjadi tanggungjawab pemerintah pusat,” tegasnya. [tin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar