Peristiwa

Disperindag Bojonegoro: Virus Corona Bukan Penyebab Harga Bawang Putih Naik

Bawang Putih dan Merah di Pasar Bojonegoro

Bojonegoro (beritajatim.com) – Plt Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bojonegoro Sukaemi mengatakan, kenaikan harga bawang putih di pasaran bukan terjadi akibat pengaruh virus Corona yang mewabah. Meski bawang putih diimpor dari China.

“(Kenaikan harga bawang putih) Tidak ada hubungannya dengan virus Corona,” ujar Sukaemi, Sabtu (8/2/2020).

Menurut Sukaemi, kenaikan harga bawang putih karena disebabkan beberapa hal, diantaranya curah hujan tinggi membuat gagal panen sehingga kualitas yang kurang baik. Namun ada bawang putih yang kualitasnya bagus. Sehingga harganya lebih mahal.

“Sehingga hukum permintaan penawaran berjalan. Bawang putih dengan kualitas tinggi yang mempengaruhi kadar harga lebih mahal dari harga bawang umumnya. Perbandingannya dua siung banding satu siung bawang dan faktor permainan dagang yang kurang sehat,” tambahnya.

Dengan adanya kenaikan harga bawang putih, Dinas Perdagangan perlu melakukan operasi pasar murah dengan mendatangkan bawang putih dengan harga standar. Selain itu, pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat tidak membeli terlalu banyak untuk ditimbun.

Selain itu, juga mengimbau kepada pedagang agar tidak menjual terlalu banyak pada individu yang mengakibatkan barang langka dan memicu harga semakin naik. “Memantau para tengkulak tidak mengirim barangnya ke kota besar jika kota kecil kurang pasokan,” harapnya.

Salah seorang pedagang pasar tradisional Kota Bojonegoro, Bu Sri mengatakan kenaikan harga bawang putih terjadi sejak lima hari terakhir. Perkilogram harga eceran senilai Rp 50 ribu. Sebelumnya harga bawang putih senilai Rp 32 ribu perkilogram.

Selain bawang putih, kebutuhan dapur yang diimpor dari China salah satunya juga bawang bombai. Stok bawang bombai ini beberapa hari kosong. “Bawang putih dan bombai ini semua dari China. Kelangkaan ini mungkin akibat Virus Corona,” ujarnya. [lus/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar