Peristiwa

Di Kabupaten Mojokerto

Desa Tangguh Bencana Itu Bernama Padusan

Pembentukan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana yang digelar BPBD Kabupaten Mojokerto. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Bertempat di Balai Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar Pembentukan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana di Kabupaten Mojokerto. Kegiatan digelar mulai 28 Oktober hingga 1 November 2019.

Dengan peserta sebanyak 30 orang, kegiatan menghadirkan narasumber dari BPBD baik Provinsi Jawa Timur maupun Kabupaten Mojokerto, United States Agency for International Development (USAID), RS Gatoel dan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah sebuah desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana.

“Kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana dan peningkatan kapasitas untuk pemulihan pasca bencana. Dalam Destana, masyarakat terlibat aktif,” ungkapnya, Kamis (31/10/2019).

Baik dalam mengkaji, menganalisis, menangani, memantau, mengevaluasi dan mengurangi risiko-risiko bencana yang ada di wilayah mereka. Terutama dengan memanfaatkan sumber daya lokal demi menjamin keberkelanjutan. Para peserta menerima materi Undang-unsang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang penanggulangan Bencana, Peraturan Kepala BNPB No. 1/2012 tentang pedoman desa tangguh bencana dan simukasi.

“Tujuannya untuk melindungi masyarakat di kawasan rawan bahaya dari dampak-dampak merugikan akibat bencana. Meningkatkan peran serta masyarakat, khususnya kelompok rentan, dalam pengelolaan sumber daya untuk mengurangi risiko bencana. Meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya dan pemeliharaan kearifan lokal bagi PRB,” katanya.

Selain itu, lanjut Zaini, juga untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dalam memberikan dukungan sumber daya dan teknis bagi Pengurangan Resiko Bencana (PRB). Meningkatkan kerjasama antara para pemangku kepentingan dalam PRB, pihak pemerintah daerah, lembaga usaha, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyakarat (LSM), organisasi masyarakat dan kelompok-kelompok lainnya yang peduli.

“Berdasarkan peta rawan bencana, Kecamatan Pacet termasuk dalam kategori Daerah Rawan Bencana Tanah Longsor dan Kebakaran Hutan. secara  Historis yang pada Tahun 2013, Desa Padusan pernah terjadi bencana tanah longsor serta banjir  mengakibatkan  kerugian material maupun jiwa. Ini yang menjadi alasan Desa Padusan dipilih menjadi Desa Tangguh Bencana,” jelasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar