Peristiwa

Dermaga Curah dan Log GJT Beroperasi Lagi, Polisi dan Warga Saling Dorong

Gresik (beritajatim.com) – Imbas beroperasinya kembali dermaga curah dan log PT Gresik Jasa Tama (GJT) yang berlokasi di Jalan RE.Martadinata membuat warga ring satu asal Kelurahan Kemuteran, Gresik melakukan protes.

Sempat terjadi aksi dorong-mendorong antara warga dengan aparat kepolisian. Namun, setelah diberi pengertian warga memilih mundur sambil tetap bergerombol di pintu keluar gang dan dihadang oleh aparat.

Salah satu warga yang melakukan aksi protes, Andre (43) warga Blandongan, Kelurahan Kemuteran, Gresik menuturkan, penutupan dermaga curah dan log milik GJT itu sudah ada keputusan dari Ketua DPRD Gresik. Bahwa, dermaga tersebut disuruh pindah ke Pelabuhan JIIPE. “Warga menuntut jangan ada lagi bongkar muat batubara. Sebab, dampak polusinya sangat tinggi diganti log saja tidak apa-apa,” tuturnya sambil berteriak, Rabu (12/08/2020).

Masih menurut Andre, seharusnya radius antara dermaga GJT dengan pemukiman warga minimal 5 kilometer. Pasalnya, warga pesisir di Jalan RE.Mardinata Gresik yang berdekatan dengan dermaga batubara sudah gerah.

“Warga ingin sehat bukan sebaliknya diberi polusi udara akibat bongkar muat batubara. Dampaknya bisa mengganggu kesehatan paru-paru. Khususnya, anak-anak. Tidak hanya itu tiap menit terutama ibu-ibu menyapu rumahnya,” ungkapnya.

Terkait dengan ini, General Manager PT Pelindo III (Cabang) Gresik Sugiono mengatakan, GJT dan perusahannya ada kerjasama BOT. Namun, sejak November 2019 hingga sekarang dermaga terminal ini tidak beroperasi. Padahal, sesuai regulasinya memang dikhususkan untuk bongkar muat curah dan log. “Semua prosedur sudah kami lakukan termasuk pencegahan polusi. Untuk itu, kami berupaya melakukan pendekatan kepada masyarakat agar dermaga ini bisa beroperasi kembali,” ujarnya.

Sementara, Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto menyatakan pengamanan dermaga terminal curah dan log GJT ini sesuai permintaan Pelindo III karena menyangkut obyek vital nasional. “BKO tanggungjawab ada di saya. Petugas di lapangan laksanakan tugas secara humanis. Kami tidak menginginkan adanya gangguan Kamtibmas. Untuk penggunaan senpi harus melalui perintah saya,” katanya.

Ditanya batas waktu pengamanan. Alumni Akpol 2011 ini menjelaskan batas waktunya pelaksanaan pengamanan sampai situasi kondusif lalu tahap demi tahap personel dikurangi. “Untuk pengamanan ini kami menerjunkan 500 personel gabungan dari Polres, Sat Brimob Polda Jatim, TNI dan Satpol PP. Kami juga berharap tidak ada kendala di lapangan. Kalau masyarakat kurang puas silahkan berhubungan dengan perusahaan. Kami siap memediasi,” pungkasnya. [dny/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar