Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Densus 88 Ajak 200 Dai dan Khatib di Surabaya Perkuat Wasathiyah Cegah Radikalisme

Surabaya (beritajatim.com) – Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror (AT) Polri gelar silaturahmi dengan 200 orang dai dan khatib perwakilan dari kecamatan dan ormas Islam di Kota Surabaya. Dalam silaturahmi ini, Densus 88 mengajak untuk bersama memperkuat Islam Wasathiyah untuk mencegah radikalisme dan intoleransi.

Kanit I Kontra Ideologi Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri AKBP Moh. Dofir mengungkapkan radikalisme merupakan lahan subur untuk berkembangnya kejahatan terorisme. Juga merupakan salah satu indikator yang menjadi bibit radikalisme yaitu intoleransi.

“Sikap intoleransi merupakan bentuk pengingkaran terhadap kebhinekaan dan bertentangan dengan nilai-nilai pancasila maupun norma-norma agama yang beradab,” kata Dofir usai silaturahmi dengan dai dan khotib di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Kamis (15/9/2022).

Dofir menegaskan salah satu hal yang sangat mendasar untuk memerangi terorisme dan radikalisme adalah mengembangkan sikap toleransi dan menghilangkan eklusifisme kelompok.

“Strategi kontra radikalisme adalah masyarakat umum, pelajar, dan tokoh masyarakat dengan bertujuan menanamkan nilai ke-indonesiaan dan nilai kedamaian. Strategi mencegah intoleransi bisa dilakukan kampaye toleransi, pembinaan sikap toleransi yang terintegrasi dan penanaman nilai luhur ideologi pancasila dan budaya literasi,” katanya.

Dofir menambahkan upaya dalam mencegah radikalisme secara mandiri dilakukan dengan menanamkan jiwa nasionalisme, berpikir terbuka dan toleransi, waspada terhadap provokasi dan hasutan, berjenjang dalam komunitas perdamaian.

“Kegiatan ini sangat strategis karena memang para dai dan khatiblah yang terjun langsung di lingkungan masyarakat untuk mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat anak bangsa di manapun berada untuk berani dengan tegas mencegah paham intoleransi dan radikalisme,” beber Dofir.

Oleh karena itu, kata Dofir, seluruh elemen masyarakat harus memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama untuk membangun kehidupan dengan ruang wasyatiyah, ruang toleransi, ruang saling menghargai itu harus terus menerus kita lakukan bersama.

“Jika para khatib tidak ada control dalam menyampaikan materi maka menjadi ancaman yang serius bagi negara,” tegasnya.

Maka dari itu, Dofir mengingatkan peran sentral para khatib jumat sebagai agen narasi agama yang moderat, bahwa khatib memiliki otoritas dalam menasehati dan mengarahkan jamaah jumat agar menghindari pemikiran dan perilaku yang menciderai persaudaraan beragama, persaudaran berbangsa, dan persaudaraan kemanusiaan.

“Maka sangat efektif dalam meredam berita-berita hoax di media, ujaran kebencian, dan adu domba antar sesama elemen bangsa, tak hanya itu, dia juga memberikan dukungan maksimal kepada pemerintah dan ulama,” tandasnya.

Acara itu dihadiri oleh Sekda Kota Surabaya Hendro Gunawan, Kepala Kantor Kemenag Surabaya beserta Forkopimda Surabaya. Acara dilanjutkan dengan pemberian materi dari guru besar UIN Sunan Ampel Nur Syam, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur dan Rektor UNISKA Kediri, Ali Maschan Moesa dan eks narapidana teroris Miftahul Munif. [asg/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev