Peristiwa

Demo Tolak Relokasi Irigasi di Jember Berujung Ricuh

Jember (beritajatim.com) – Ratusan orang berunjuk rasa di gedung DPRD dan depan Kantor Bupati Jember, Jawa Timur, menolak relokasi saluran irigasi di Desa Puger Wetan dan Puger Kulon, Kecamatan Puger, Senin (9/3/2020). Demo berakhir ricuh.

Petani menolak relokasi irigasi pada 2018, karena membuat debit air menjadi turun. Mereka menyatakan ada 300 hektare sawah terdampak relokasi. Ini bisa membuat produktivitas anjlok. “Paling terdampak Puger Kulon. Karena aliran di Puger Wetan agak lurus, sementara di Puger Kulon ada tiga kali kelokan,” kata Nurdiyanto, koordinator petani.

Petani berharap upaya relokasi irigasi dihentikan. “Kami ingin irigasi seperti yang lama: lurus sehingga daya dorong air kencang, sehingga datangnya air ke Puger cepat,” kata Nurdiyanto.

Aksi di gedung DPRD Jember berakhir damai. Wakil Ketua DPRD Jember Ahmad Halim mengatakan, pihaknya akan memfasilitasi penyelesaian persoalan. “Ini tentu menjadi perhatian kami untuk bisa memfasilitasi keinginan petani dan perwakilan mahasiswa,” katanya.

Aksi kericuhan terjadi saat di depan Kantor Bupati Jember. Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang mendampingi petani menuntut bertemu Bupati Faida. Namun, ditunggu lama, Bupati Faida tak juga menemui.

Akhirnya terjadi aksi dorong dan benturan yang menyebabkan sejumlah mahasiswa terluka. “Ada enam orang terluka,” kata Ketua PMII Jember Baijuri. Dua orang dirawat di RS Kaliwates dan empat orang di RS Jember Klinik.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Aris Supriyanto berharap, kejadian tersebut menjadi bahan refleksi semua pihak. “Ke depan kami berharap tidak ada lagu benturan dan sama-sama menahan diri,” katanya. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar