Peristiwa

Demo Omnibus Law, Buruh dan Polisi Sama-sama Bentangkan Spanduk

Buruh dan Polisi sama-sama membentangkan spanduk untuk menyuarakan aksi tolak UU dengan damai dan tertib di depan Gedung Grahadi, Surabaya, Selasa (20/10/2020). [foto/Humas]

Surabaya (beritajatim.com) – Mosi tidak percaya kepada pemerintah dan DPR RI atas disahkannya RUU Omnibus Law atau Cipta Kerja yang melanggar konstitusi dan demokrasi. Begitulan penggalam kalimat lantang yang disampaikan para buruh dan mahasiswa dalam demonsytasi di depan Gedung Grahadi, Surabaya, Selasa (20/10/2020).

Bahkan para buruh juga membentangkan spanduk dengan pesan atas kekecewaan mereka. Bagi buruh Rancangan Undang-undang (RUU) Cipta Kerja tanpa proses yang panjang dan cacat sejak awal, tiba-tiba pada Senin (05/10/2020) disetujui keberadaannya oleh DPR RI.

Menurut mereka pengesahan RUU ini menjadi mimpi buruk bagi keberlanjutan kehidupan rakyat Indonesia. Sebab di dalam aturan tersebut sarat kepentingan segelintir elit. “Penghianatan atas konstitusi dilangsungkan secara masif dan sistematis, melalui mufakat jahat elit penguasa,” jelas Lyan Widiya, dari Serikat Pekerja Danamon yang tergabung dalam Gerakan Tolak Omnibus Law (Getol) Jawa Timur.

“Mulai dari pengesahan Revisi Undang-undang Pertambangan, Mineral dan Batubara (Minerba), tidak disahkannya Rancangan Undang-undang Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), hingga disahkannya Revisi Undang-undang Mahkamah Konstitusi (MK), semuanya satu paket untuk kepentingan mereka yang berkuasa,” sambungnya.

Persetujuan RUU Cipta Kerja menurut perwakilan buruh pada dasarnya sangat berbahaya bagi kehidupan rakyat dari berbagai sektor. Mulai dari buruh, petani, nelayan, masyarakat pinggiran, perempuan dan masyarakat adat. Sebab didalamnya berjubel aturan yang dijadikan satu.

“Niatnya untuk memaksimalkan fungsi aturan melalui sinkronisasi. Tapi sebenarnya tak lebih dari upaya deregulasi aneka aturan yang sebelumnya sudah longgar lalu dilonggarkan lagi melalui RUU ini,” lanjutnya.

Sementara itu, kepolisian yang memberikan ruang dan waktu bagi buruh dan mahasiswa juga ikut membentangkan spanduk. Kepolisian menyampaikan aspirasi sekaligus teguran supaya aksi demo tak berujung anarki dan merusak fasilitas umum.

Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Hartoyo menjelaskan, spanduk tersebut merupakan langkah agar peserta demo bisa tertib. Sebab, jika keamanan dan ketertiban masyarakat kondusif, maka sektor perekonomian juga produktif.

Bahkan, guna memberikan fasilitas khusus buat peserta demo yang sakit, petugas sudah menyiapkan 8 unit ambulans. Tak hanya itu, rumah sakit rujukan juga sudah ditunjuk untuk merawat peserta aksi yang sakit. “Maka dari itu kami harapkan seluruh aksi kedepannya tetap dan selalu kondusif. Tak ada anarki dan perusakan fasum. Sampaikanlah aspirasi dengan baik, santun dan tertib,” jelasnya.

Meski para buruh dan mahasiswa kondusif, lanjut perwira dua melati ini, pihak kepolisian selalu menyiagakan personil anti huru-hara. Harapannya jika memang ada pihak tak bertanggungjawab yang ‘menyulut’ emosional buruh bisa diantisipasi.

“Selain itu kita juga antisipasi adanya penyusupan anak-anak yang anarkis atau kelompok provokator yang menyusup. Tapi hari ini sudah berjalan aman, tertib dan santun,” lanjutnya. [man/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar