Peristiwa

Demo di Pamekasan Berakhir Ricuh

Petugas menyemprotkan waterconan ke arah massa demonstran di Gedung DPRD Pamekasan, Jum'at (27/9/2019).

Pamekasan (beritajatim.com) – Aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan, Jl Kabupaten 107, Jum’at (27/9/2019). Berakhir ricuh dan dibubarkan aparat kepolisian.

Padahal demonstrasi menolak Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP), yang diikuti ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di daerah berslogan Bumi Gerbang Salam. awalnya berlangsung damai.

Namun memasuki masa akhir aksi, massa demonstran mulai beringat dan berupaya menerobos brikade petugas pengamanan. Bahkan salah satu anggota legislatif yang merespon tuntutan mahasiswa, Mohammad Sahur justru menjadi sasaran aksi anarkis berupa pelemparan ke arahnya.

Kondisi tersebut membuat aparat keamanan mulai sigap mengantisipasi kericuhan, mereka pun mencoba meredam emosi mahasiswa yang mulai meluap. Namun situasi justru tidak terkendali dan membuat kondisi semakin liar.

Mengetahui kondisi semakin tidak kondusif, aparat pun mulai melakukan penyemprotan waterconan dan dilanjukan dengan tembakan gas air mata ke arah tumpukan massa.

Hal tersebut membuat tumpukan massa terpecah, mereka pun berupaya melindungi diri dan menjauh dari jangkauan waterconan yang disemprotkan petugas dari sisi utara Jl Kabupaten. Bahkan sebagian di antara mereka juga harus mendapatkan perawatan akibat gas air mata.

Tidak hanya massa peserta aksi, termasuk para petugas keamanan hingga sejumlah wartawan juga terkena imbas asap gas air mata dan membuat mereka harus mendapat perawatan intensif.

Hingga berita ini ditulis, massa mencoba membubarkan diri dan berlarian ke sisi barat dan timur dari lokasi aksi. Termasuk ketika petugas mencoba terus menyemprotkan waterconan ke arah kerumunan massa. [pin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar