Peristiwa

Demo Bawa Sajam dan Bom Molotov, Anarko Terprovokasi Buzzer Media Sosial

AKBP Hartoyo saat memimpin apel pagi di Polrestabes Surabaya, belum lama ini.(Humas)

Surabaya (beritajatim.com) – Ratusan anak yang tergabung dalam komunitas Anarko sempat ditangkap kepolisian Polda Jawa Timur dan jajaran. Mereka ditangkap karena banyak yang membawa senjata tajam, bom molotov, kembang api, dan benda padat lainnya saat ikut demonstrasi tolak UU Omnibus Law Kamis (8/10/2020) lalu.

Para anak-anak sekolah ini terprovokasi lantaran mereka merupakan anak labil dan masih belum bisa mengontrol emosinya. Sehingga, para pelaku provokasi pun memanfaatkan kondisi ini. AKBP Hartoyo, Wakapolrestabes Surabaya menjelaskan, 253 anak sempat diamankan petugas karena bertindak anarki.

Mereka semua ternyata terprovokasi melalui media sosial dan jejaring sosial. Walhasil setidaknya ada 14 anak yang terpaksa ditahan dan ditindaklanjuti dengan ancaman pasal UU Darurat no 170. Sedangkan sisanya dari 253 anak yang diamankan ini dilepas dengan syarat.

“Anak-anak ini terprovokasi dan mereka (Anarko.red) hanya korban provokasi. Nah pelaku proovokasi itu banyak, bisa warga biasa atau orang suruhan seperti buzzer. Tujuannya sama memprovokasi dan melakukan tindakan anarki, maka peran orangtua sangat membantu petugas dalam pengawasan anak-anak,” paparnya kepada beritajatim.com, Minggu (18/10/2020).

Lebih lanjut AKBP Hartoyo menjelaskan, pihak kepolisian juga menggerakan unit Intelkam, Cyber Crime dan Binmas. Untuk unit Cyber Crime, Polrestabes sudah membekukan sejumlah akun sosial media yang bersifat memprpvokasi.

Hanya saja, pihaknya menegaskan, provokator ini ditengarai digerakkan oleh massa atau kelompok tertentu. Meski demikian, ada sejumlah akun yang dibekukan tapi masih melakukan pergerakan dengan membuat akun baru.

“Kita belum mengamankan provokator di sosial media. Tapi kita mendeteksi adanya pergerakan provokasi yang terus berlanjut meski sudah dilakukan pembekuan akun. Belum tahu apa motif provokasi ke anak-anak, tapi yang jelas petugas akan bertindak tegas,” tambah alumni Akademi Kepolisian (Akpol), 2000 itu. [man/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar