Peristiwa

Dari SPPT-PBB, Alamat Rumah di KTP yang Ditemukan Saat Pengrebekan di Yaman Juga Tidak Ada

Mojokerto (beritajatim.com) – Tak hanya pihak Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Mojokerto yang menelusuri pemilik Kartu Tanda Penduduk (KTP) saat pengrebekan markas jaringan ISIS-Al Qaeda and Arabian Peninsula (AQAP) di Al Bayda, Republik Yaman.

Pihak Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto juga turut melakukan penelusuran. Selain di lingkungan tak mengenal, catatan Rukun Tetangga (RT) pun tak pernah mencatat nama Syamsul Hadi Anwar sebagai warga di Jalan Basket Blok NN Nomor 16 RT 1 RW 12 Perum Japan Raya, Desa Japan Raya, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Kepala Desa (Kades) Japan, Salimudin mengatakan, pihak desa langsung mencari informasi pasca viral video pengrebekan di markas jaringan ISIS-Al Qaeda and Arabian Peninsula (AQAP) di Al Bayda, Republik Yaman dan ditemukan KTP atas nama Syamsul Hadi Anwar warga Perum Japan Raya tersebut.

“Kami sudah mencari informasi, memang warga tidak ada yang mengenal pria yang dimaksud dalam KTP itu. Kami juga berupaya menelusuri untuk menggali informasi dari developer yang notabene masih tercatat sebagai penanggung jawab di Perum Japan Raya,” ungkapnya, Selasa (1/9/2020).

Berdasarkan histori rumah di Jalan Basket Blok NN nomor 16 tersebut merupakan milik M Subekhan yang telah pindah kerja di Kalimantan Tengah sejak tahun 2010 lalu. Sesuai Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT-PBB) rumah masih atas nama Agung asal Sidoarjo dan hingga saat ini belum berubah.

“Rumah itu atas nama Agung warga Sidoarjo tapi dihuni oleh Pak Aan panggilan akrab M Subekhan. Pak Aan pindah karena perusahan tempatnya bekerja membuka cabang di Kalimantan sehingga ia dan keluarganya pindah ke sana. Pangkalanbun, Kalimantan Tengah. Selama ini tidak ada aktivitas masyarakat di lingkungan Perum Japan Raya yang mencurigakan,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris RT 1 RW 12, Hariono menjelaskan rumah itu kosong semenjak M Subekhan pindah ke luar pulau, meski sempat dikontrak Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sumber Jaya selama dua tahun. Yakni tahun 2015 sampai 2017. Tercatat ada lima karyawan koperasi yang tinggal dan bermalam di rumah tersebut.

“Iya memang ada lima karyawan koperasi yang tinggal di rumah itu selama dua tahun, mereka sudah melapor dan melampirkan fotokopi KTP-nya. Tidak ada nama Syamsul Hadi Anwar di salah satu pegawai koperasi tersebut dan kita juga tidak mengenal nama itu tercatat sebagai warga kami,” ujarnya.

Adapun lima orang anggota Koperasi Sumber Jaya tersebut yaitu Rudi Hartono warga Madiun sebagai pimpinan cabang, Aris Dwi Sampurna warga Trenggalek sebagai kasi pengawas. Sedangkan, tiga orang merupakan agen operasional, bernama Sutikno warga Jombang, Dedy Cahyono warga Sidoarjo dan Harisma Yunianto Abadi warga Lampung Utara. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar