Peristiwa

Dampak Corona, 50 Juta Tenaga Pariwisata Terancam Nganggur

Seorang perempuan Bali memakai masker saat perayaan Galungan di Pura Jagatnata, Denpasar, pada 19 Februari lalu. [Foto: Sonny Tumbaleka/AFP/BBC]

Sekitar 50 juta orang akan kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata saja, menurut World Travel and Tourism Council (WTTC) akibat pandemi virus corona ini. Direktur WTTC, Gloria Guevara, mengatakan wabah ini “menghadirkan ancaman serius terhadap industri pariwisata”.

Pernyataan ini diberikan setelah sebelumnya ribuan penerbangan internasional dibatalkan dan beberapa perusahaan asuransi menolak adanya nasabah baru untuk asuransi perjalanan. Menurut perkiraan yang dinyatakan oleh WTTC, sektor pariwisata akan mengalami penyusutan hingga 25% pada tahun 2020.

Mengutip laporan BBC, organisasi pariwisata global ini menyerukan agar negara-negara melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi industri, di antaranya: Menanggalkan atau memudahkan proses perolehan visa dan menurunkan ongkos pengurusan; Mencabut penghalang yang tidak perlu di pelabuhan dan bandara; Mengurangi pajak perjalanan seperti bea penumpang udara; Meningkatkan anggaran untuk mempromosikan tujuan wisata.

Namun Guevara menambahkan bahwa pariwisata punya kekuatan untuk mengatasi tantangan ini dan akan menguat lagi. Industri pariwisata mengalami pukulan besar, seiring banyaknya negara-negara yang melakukan pembatasan perjalanan guna mencegah penyebaran virus corona.

Pemerintah Indonesia sudah berupaya mendongkrak wisata domestik melalui insentif diskon tiket pesawat ke sejumlah tujuan sebagai stimulus. Wabah yang sudah menyebar ke lebih dari 80 negara itu berdampak besar terhadap perjalanan secara global.

Asosiasi Industri Penerbangan Internasional (IATA) pekan ini mengatakan bahwa kerugian industri penerbangan global dapat mencapai USD 113 miliar tahun ini akibat Covid-19. Pemerintah Indonesia memberikan insentif melalui diskon tiket pesawat antara 30% sampai 40% untuk 10 destinasi dalam negeri dari Maret hingga Mei 2020. Adapun 10 destinasi wisata yang dimaksud meliputi Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Silangit, Tanjung Pinang, dan Tanjung Pandan.

Selain dari pemerintah, maskapai bisa memberikan potongan harga untuk sebagian besar destinasi wisata domestik. Namun demikian, para pelaku usaha tetap merasakan kesulitan akibat turunnya jumlah wisatawan.

Bali merupakan salah satu destinasi yang paling terdampak. Selama lebih dari 40 tahun berkecimpung di bisnis pariwisata di Bali, Anak Agung Raka Bawa, belum pernah mengalami situasi sesulit saat ini. Dalam dua bulan terakhir, nyaris tidak ada turis mengunjungi usaha wahana air miliknya yang terletak di Pantai Tanjung Benoa, Badung. “Boleh dikatakan 99% kosong, karena mayoritas tamu kami memang dari China,” kata Raka.

Pada Kamis (05/03/2020) siang, tidak ada turis sama sekali di Rai Water Sport. Beberapa staf duduk-duduk di kursi plastik merah menyala yang memenuhi aula. Raka, yang merintis bisnisnya sejak 1985, memutuskan untuk fokus menarik wisatawan dari China seiring dengan tren kenaikan kunjungan wisatawan dari negara tersebut.

“Walaupun harga (paket) lebih murah dibandingkan yang lain, tapi menang di (jumlah). Makanya saya senang menangani tamu China,” katanya seperti dilaporkan wartawan Anton Muhajir untuk BBC News Indonesia.

Kebanyakan turis dari China berwisata dalam rombongan, yang bisa mencapai 1.500 – 2.000 orang dalam satu grup. Setiap hari, rata-rata kunjungan ke usahanya mencapai 1.000 orang per hari.

Rai Water Sport memasang tarif USD 25 (Rp 357.000) per tamu untuk satu paket naik perahu dengan alas kaca untuk melihat ikan dan penyu. Selain itu, ada pilihan kegiatan lain seperti banana boat, diving, dan sea walker. “Rata-rata satu turis menghabiskan USD 90-USD 100 di sini,” lanjutnya.

Namun, kondisi itu berubah sejak virus corona mewabah di puluhan negara, yang berdampak pada pariwisata. Beberapa pemesanan sampai April 2020 pun dibatalkan.

Kantor Imigrasi Bali mencatat kedatangan 392.824 wisatawan di bulan Februari. Angka ini turun 33% dari Januari, setelah pemerintah memberlakukan larangan perjalanan ke dan dari daratan China pada 5 Februari demi menekan penyebaran wabah. Australia menggantikan China sebagai asal wisatawan asing terbesar bulan lalu, diikuti oleh India dan Jepang.

Hanya 4.820 wisatawan China berada di Bali pada bulan Februari. Jumlah ini menurun secara signifikan dari 113.745 orang pada bulan sebelumnya. Wisatawan China yang mengunjungi Indonesia tahun lalu mencapai 2 juta, kedua terbesar. Namun, angka ini diperkirakan akan sulit dicapai pada 2020.

Sementara, menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), penurunan tingkat okupansi di sekitar 6.000 hotel di seluruh Indonesia mencapai higga 50 persen sejak awal tahun hingga saat ini.

Tingkat hunian hotel di Bali rata-rata turun hingga 70 persen sejak merebaknya wabah Covid-19. Namun, Pemprov Bali telah mengimbau para pengusaha hotel agar tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) meskipun terjadi penurunan kunjungan wisatawan.

Penurunan drastis kunjungan wisatawan ini berdampak langsung pada kesejahteraan karyawan pariwisata, seperti Ni Wayan Tini dan Ni Komang Wahyuni, yang bekerja paruh waktu di Rai Water Sport. Menurut Tini, mereka biasa mendapatkan banyak bonus dari tamu, selain gaji bulanan.

“Cukuplah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari dan bekal anak sekolah. Kalau sekarang ya tidak ada lagi,” katanya. Raka menyebut, Bali sudah beberapa kali mengalami krisis pariwisata, termasuk saat wabah SARS pada 2002, bom Bali pada 2002 dan 2005, dan erupsi Gunung Agung pada 2017. Dibandingkan krisis sebelumnya, Raka menyebut krisis di tengah wabah virus corona sebagai yang terburuk.

Setelah bom Bali mengguncang Pulau Dewata, menurut Raka, turis sudah mulai berdatangan seminggu kemudian. “Ini sudah dua bulan. Ini paling buruk dan kita belum tahu sampai kapan,” katanya. “Perkiraan saya (situasi begini) sampai Juli. Mudah-mudahan perkiraan saya meleset.”

Tanjung Benoa, kawasan wisata olahraga air yang sangat populer di Bali, tampak sepi. Hanya ada beberapa turis domestik yang bermain di pantai. Para pengemudi perahu, penarik jangkar, pemandu menyelam, dan staf lain lebih banyak tiduran di bawah banana boat yang diparkir.

Ragil Pratama, yang bekerja mengemudikan perahu cepat untuk turis, mengakui penurunan penghasilan menyusul anjloknya kunjungan turis. “Biasanya bisa bawa tamu sampai 80 orang. Sekarang dapat 30 saja sudah syukur,” katanya.

Ragil, yang normalnya bisa mengantongi Rp 100 ribu per hari, kini hanya sekitar Rp 20.000 per hari. “Sudah sejak Imlek kondisinya begini. Mau bagaimana lagi. Ini kan memang tidak hanya masalah Bali atau nasional, tetapi global,” lanjutnya.

Menurunnya pendapatan usaha memaksa Komang Suaryasa, pengelola usaha lainnya, untuk memotong gaji pegawai yang kebanyakan bekerja dalam skema paruh waktu. “Kami hanya bisa mengupah karyawan setengah gaji. Itu pun kami kurangi,” katanya.

Suaryasa berusaha optimis jika kondisi ini tidak akan berlangsung lama. “Saya berharap secepatnya (pulih). Apalagi kami di Bali sudah membuat persembahan khusus untuk menolak bala,” kata Suaryasa.

Elly Hutabarat, ketua umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), mengapresiasi stimulus pemerintah yang bertujuan menggerakkan perjalanan domestik. Namun, ia katakan langkah itu tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. “Berat sekali (dampak dari virus corona), kita nggak bisa tertolong dari itu aja, tapi itu suatu hal yang kita hargai,” kata Elly kepada wartawan BBC News Indonesia Liza Yosephine.

Selain penerbangan dan hotel, Elly sebut bahwa biro perjalanan juga terpukul. Ia menjelaskan bahwa berbagai sektor tengah mengambil langkah dengan tujuan untuk menghemat. Di antaranya adalah memberikan cuti tanpa dibayar bagi karyawan.

“Dampaknya itu adalah orang itu unpaid leave, ada seminggu maupun dua minggu dari sebulan itu, mulai mengurangi karyawan. Kalau nggak ada yang masuk (wisatawan) bagaimana?” ujarnya.

Elly meminta agar pemerintah mempertimbangkan subsidi lainnya juga, seperti untuk pajak maupun biaya listrik. “Kita membantu yang ada ini, existing hotel, maupun travel agent, dengan stimulus. Mungkin subsidi-subsidi sementara, sampai bertahan sampai virus ini hilang,” kata Elly.

“Kita kan nggak tahu sampai kapan nih, mudah-mudahan summer (pertengahan tahun) ini sudah selesai. Kalau misalnya (subsidi) bisa bertahan sampai April atau Mei itu bagus sekali. Jadi pemerintah yang kita minta tolong itu, pajaknya, tarif listrik, sementara dikurangi lah,” tambahnya.

Elly mengatakan dampak paling gawat dirasakan oleh industri pariwisata sejak awal Februari, bagi wisatawan yang datang maupun penjualan perjalanan ke luar negeri. “Semua daerah tujuan wisata terkena dampaknya, diantaranya untuk inbound yang paling parah Bali, Yogyakarta, Jakarta, Belitung, Manado,” ujar Elly.

“Apalagi ke Manado, Belitung atau Bali, yang jumlah wisatawan China itu nomor satu. Itu dampaknya sudah luar biasa.”

Menyusul terkonfirmasinya kasus Covid-19 di Indonesia, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama, mengatakan bahwa pemerintah menunda pemberian insentif bagi para wisatawan asing.

Sebelumnya pemerintah menyiapkan dana Rp298,5 miliar untuk mendatangkan turis asing ke Indonesia akibat jumlah yang merosot karena wabah virus corona di luar negeri.

Insentif itu terdiri dari dana yang ditujukan pada maskapai dan biro perjalanan sebesar Rp 98,5 miliar, anggaran promosi wisata Rp 103 miliar, kegiatan pariwisata Rp 25 miliar, dan dana untuk influencer Rp 72 miliar. Wishnutama mengaku belum mengetahui sampai kapan insentif pariwisata ini ditunda.

Namun demikian, Ari Juliano Gema, staf ahli Menteri Parekraf, menekankan bahwa pemerintah berupaya menggerakkan wisata domestik, walaupun memang tidak sebanding harapan dan jumlah wisatawan asing.

“Wisatawan lokal sendiri itu tidak bisa memenuhi occupancy rate sampai 80-100% seperti yang diharapkan oleh pengusaha hotel tersebut,” kata Ari kepada wartawan BBC News Indonesia Liza Yosephine melalui sambungan telepon.

“Tapi kita berupaya keras supaya tetap ada pergerakan wisatawan lokal di berbagai daerah tersebut agar mampu setidaknya membuat tetap ada pergerakan ekonomi di daerah-daerah wisatawan tersebut meski tidak sampai mencapai hasil atau occupancy rate seperti sebelum adanya wabah ini,” tambahnya.

Upaya itu berupa mendorong kementerian maupun lembaga pemerintahan lain, beserta berbagai perusahaan, BUMN maupun swasta, untuk melakukan kegiatan rapat di daerah-daerah tujuan yang mendapatkan insentif.

Ari menjelaskan bahwa pemerintah juga kini sedang membahas subsidi lain demi mengurangi dampak, seperti pajak dan relaksasi penagihan hutang bagi pelaku usaha industri pariwisata.

Namun, ia mengatakan hal ini masih dalam tahap awal dan melibatkan berbagai pihak, diantaranya Kementerian Keuangan, OJK dan perbankan. “Kita masih menunggu keputusannya, karena ini memang tidak mudah,” ujar Ari. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar