Peristiwa

Dadang dan Septi, Kisah Cinta Sejoli yang Terpisah Maut

Jombang (beritajatim.com) – Mereka masih berusia belia. Namun perjalanan cinta pasangan kekasih ini berujung tragis. Cinta mereka terpisah oleh maut di Sungai Brantas. Itu setelah perahu penyeberangan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan tenggelam di sungai terpanjang di Jawa Timur tersebut pada Sabtu (29/2/2020) sekitar pukul 22.00 WIB, tepatnya di Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang.

Pasangan kekasih itu adalah Serda Dadang Agung Wicaksono (21) dan Lutfi Dwi Saptiana atau Septi (20). Dadang merupakan anggota Yonif 521 Dadaha Yudha, Kediri. Dia tinggal di Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Nganjuk. Jasad Dadang sudah berhasil ditemukan.

Sementara Septi adalah mahasisiwi salah satu kampus di Jombang. Septi merupakan warga Desa Pacerpeluk, Kecamatan Megaluh, Jombang. Hingga Selasa (3/3/2020) jasad gadis berperawakan tinggi ini dalam proses pencarian. Tim SAR gabungan masih menyisir Sungai Brantas untuk menemukan jasadnya.

“Mereka memang sudah pacaran, tapi soal pernikahan masih lama. Kami belum membahas masalah itu. Karena Dadang baru saja diterima menjadi prajurit TNI, yakni pada 2018,” kata ayah dari Serda Dadang, Suprapno (58), ketika ditemui di rumahnya di Dusun Sentanan, Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Nganjuk.

Suprapno masih terlihat syok dengan kepergian sang anak untuk selamanya. Pandangan matanya kosong. Bahkan tak jarang air matanya meleleh karena kesedihan. Meski begitu, Suprapno masih bisa mengingat dengan jelas pertemuan terkahir dengan anak semata wayangnya itu.

Menurut Suprapno, Dadang berpamitan pada Sabtu (29/2/2020) sekitar pukul 21.00 WIB, untuk mengantar Septi ke rumahnya di Desa Pacarpeluk. Selain Dadang dan Septi, ada satu temannya yang ikut, Yakni Febriansyah alias Feri (25). Mereka membawa dua sepeda motor. Feri sudah ditemukan dalam kondisi selamat pasca tragedi tersebut.

Di bantaran Sungai Brantas Dusun Sentanan, ketiga remaja ini naik perahu yang dikemudikan oleh Surip (45) menuju Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Di atas perahu yang digerakkan mesin diesel itu juga ada penumpang lainnya, yakni Sukar (55) dan anaknya Anista (20).

Malam cukup gelap, perahu bergerak perlahan membelah Sungai Brantas. Di sela itu terdengar suara mesin diesel yang menderu-deru. Baling-baling penggerak juga berputar-putar hingga menyebabkan gelombang di sungai tersebut. Awalnya, perjalanan perahu penyeberangan ini tak ada kendala.

Namun sejurus kemudian, perahu yang dikemudikan oleh Surip berhenti mendadak. Baling-balik penggerak terserimpung oleh sampah sungai. Padahal debit air sungai cukup tinggi, arus sungaiĀ  sangat deras. Karena itu pula, perahu terseret arus dengan cepat. Ketenangan para penumpang di perahu tersebut berubah menjadi kepanikan. Maut seolah sudah mengintai.

Salah satu penumpang bernama Feri langsung melompat untuk menyelamatkan diri. Begitu juga dengan Sukar. Keduanya bisa selamat. Feri berpegangan benda apa saja yang di dekatnya. Tumbuhan enceng gondok menjadi penyelamat bagi dirinya. Feri ditemukan oleh seorang pemancing di bantaran Sungai Brantas Dusun Proko, Desa Brangkal, Kecamatan Bandar Kedungmulyo atau sekitar 2 kilometer dari lokasi awal kejadian.

Dadang dan Septi terus hanyut. Perahu kemungkin tenggelam saat melewati DAM Klaci. Pusaran arus sungai di DAM tersebut juga deras. Gelombang arus berputar-putar. Bahkan hingga saat ini bangkai perahu penyeberangan tersebut belum juga ditemukan.

“Dadang itu pandai berenang. Dia juga sangat hapal dengan medan di Sungai Brantas. Kemungkinan dia berusaha menyelamatkan pacarnya. Dia tidak mau selamat sendirian. Pacarnya juga harus selamat,” kata Suprapno mengisahkan petaka yang dialami anaknya.

Maut akhirnya benar-benar memisahkan cinta sejoli ini. Dadang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada Senin (2/3/2020) di titik penyeberangan Sungai Brantas kawasan Megaluh atau sekitar delapan kilometer dari lokasi kejadian. Tak jauh dari Dadang juga ditemukan jasad Surip, pengemudi perahu. Tentu saja, tinggal dua korban yang belum ditemukan. Keduanya sama-sama perempuan, yakni Septi dan Anis.

“Hari ini pencarian kita lanjutkan. Masih ada dua korban yang belum ditemukan, atas nama Septi dan Anis. Kemarin dua korban yang kita temukan adalah Dadang dan Surip. Mereka ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa,” kata Komandan Tim SAR gabungan, Novix Heriyadi. [suf/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar